Sendratari Rubui Manawang Tampilkan Harmoni Tradisi dan Spiritualit

  • 25 Apr 2026 10:41 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pementasan sendratari Rubui Manawang kembali digelar dengan menghadirkan nuansa yang lebih mendalam dan sarat pesan kehidupan. Sebagai lanjutan dari pertunjukan sebelumnya, karya ini mengangkat tema refleksi diri, hubungan manusia dengan alam, serta penghormatan terhadap leluhur dalam perspektif budaya Dayak.

Kegiatan ini dilaksanakan di panggung terbuka UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, sebuah pusat pelestarian dan pengembangan seni budaya daerah yang menjadi ruang ekspresi bagi para seniman lokal.

Dengan alur cerita yang lebih kompleks, Rubui Manawang menggambarkan perjalanan manusia dalam menghadapi dinamika kehidupan, mulai dari konflik batin hingga proses menemukan keseimbangan dan jati diri. Setiap adegan disusun dengan apik melalui perpaduan gerak tari, ekspresi penari, serta musik tradisional yang menggugah suasana.

Penampilan para penari memancarkan kekuatan emosional yang mampu menyentuh penonton. Kostum adat yang dikenakan menambah nilai estetika sekaligus mempertegas identitas budaya yang diangkat dalam pementasan ini. Tata panggung dan pencahayaan pun dirancang lebih modern tanpa meninggalkan unsur tradisional, menciptakan harmoni antara masa lalu dan masa kini.

Sutradara pertunjukan Benny M Tundan menyampaikan bahwa karya ini merupakan bentuk upaya untuk menjaga eksistensi seni tradisi di tengah perkembangan zaman. Selain itu, sendratari ini juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami filosofi kehidupan yang terkandung dalam budaya leluhur. Jumat, 24 April 2026.

“Di tengah perkembangan artificial intelligence, saya melihat pentingnya kita tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai spiritual, khususnya jejak leluhur seperti Nini Punyut dalam tradisi Dayak Ma’anyan." Ujarnya.

Teknologi bisa membantu kita mendokumentasikan, mengenalkan, bahkan mengembangkan budaya ke ranah yang lebih luas. Namun, esensi spiritualnya tidak boleh hilang. Justru di sinilah tantangannya bagaimana generasi sekarang mampu memanfaatkan kecerdasan buatan tanpa melepaskan akar kearifan lokal. Jejak spiritual Nini Punyut bukan hanya cerita masa lalu, tetapi pedoman hidup yang relevan hingga hari ini.

Antusiasme penonton terlihat dari respons positif yang diberikan sepanjang pertunjukan. Banyak yang menilai bahwa Rubui Manawang-Manawang bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan pengalaman spiritual dan reflektif yang memberikan makna mendalam.

Melalui pementasan ini, diharapkan nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan terus diwariskan, sekaligus menjadi inspirasi dalam membangun karakter generasi yang berakar pada budaya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....