Mengenal Makna Flexing dalam Beribadah

  • 19 Apr 2026 05:26 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Fenomena flexing atau pamer kini tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial, tetapi juga dapat merambah ke ranah ibadah. Hal ini menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Palangka Raya, Minggu, 19 April 2026, bersama narasumber Heldayani, S.H.I.

Dalam pemaparannya, Heldayani menjelaskan bahwa perilaku pamer dalam ibadah berkaitan erat dengan konsep riya, yaitu melakukan amal dengan tujuan mendapatkan pujian dari manusia. “Agar orang lain itu memujinya atau memberi penghargaan kepadanya," ucapnya.

"Inilah yang disebut dengan riya, yaitu melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memujinya atau memberi penghargaan kepadanya. Padahal ini akan menghapus atau membatalkan amal-amal saleh yang ia kerjakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 264, Allah memberikan perumpamaan tentang orang yang berbuat riya seperti batu licin yang di atasnya terdapat tanah, kemudian diguyur hujan lebat hingga bersih kembali. Artinya, amal yang dilakukan menjadi sia-sia karena tidak dilandasi keikhlasan.

“Orang yang riya itu diumpamakan seperti batu licin yang di atasnya ada tanah kemudian ditimpa hujan lebat, bersih lagi batu tersebut. Artinya, apa yang ia kerjakan, baik amal ibadahnya, karena riya tersebut akan hilang pahalanya,” katanya.

Lebih lanjut, Heldayani juga mengutip hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Allah tidak menerima amal yang dicampuri dengan kesyirikan, termasuk riya. Ia menekankan bahwa sering kali seseorang tidak menyadari telah terjebak dalam perilaku tersebut.

“Kadang kita tidak merasa kalau kita itu berbuat riya. Kita menyebutnya sebagai rasa syukur, padahal yang kita lakukan adalah flexing atau pamer. Di zaman sekarang ini, banyak orang tidak hanya sekadar hidup, tetapi sibuk mengabarkan hidupnya,” ujarnya.

Meski demikian, dalam Islam tidak dilarang untuk menampakkan nikmat yang diberikan Allah, selama dilakukan dengan adab dan tujuan yang benar. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Surah Ad-Dhuha ayat 11 yang memerintahkan untuk mensyukuri nikmat dengan cara menceritakannya.

“Ayat ini bukan bermaksud untuk kita pamer, tetapi perintah untuk bersyukur. Namun, syukur harus disertai hikmah, karena ada kondisi di mana menampakkan nikmat justru bisa melukai orang lain,” ucapnya.

Ia mencontohkan, memperlihatkan kemewahan di tengah orang-orang yang sedang mengalami kesulitan dapat menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, penting untuk memahami waktu dan kondisi dalam mengekspresikan rasa syukur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....