Inovasi PISN Dosen UPR Bangkitkan Pesona Budaya Dayak

  • 19 Nov 2025 08:58 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2025 menghadirkan gebrakan di ranah kebudayaan lokal melalui pemberdayaan seniman dan masyarakat di Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya.

Program yang didanai oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendikti Saintek, menyoroti peran penting sanggar seni sebagai pusat pengembangan kreativitas, ekonomi, dan wisata budaya berkelanjutan di Kalimantan Tengah.

Salah satu mitra utama dalam kegiatan ini adalah Sanggar Seni Budaya Katining Ambun, yang selama ini aktif melestarikan seni pertunjukan Dayak, seperti tari, musik tradisional, dan ritual simbolik.

Didampingi oleh tim dosen dan mahasiswa PISN Universitas Palangka Raya (UPR), sanggar ini melalui proses pendampingan dan pelatihan yang berpuncak pada gelaran Pesona Hanjak Sabangau.

Pertunjukan tersebut menjadi ajang unjuk karya seni berbasis komunitas yang lebih segar, komunikatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Masyarakat Kereng Bangkirai dan sekitarnya tampak antusias, memenuhi area pertunjukan dan memberikan dukungan langsung kepada para seniman lokal yang tampil.

“Seni tradisi tidak hanya soal melestarikan masa lalu, tetapi juga bagaimana ia bisa berdenyut dalam kehidupan ekonomi masyarakat,” kata Muhamad Romadoni, Ketua PISN.

Ia meyakini seni Dayak menyimpan potensi besar sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal. “Jika dikemas secara inklusif, seni ini dapat menjadi jembatan antara budaya dan peluang ekonomi,” ujarnya.

Di tengah suasana meriah festival, Desry Triani Ramawaty, Ketua Sanggar Katining Ambun, mengatakan bahwa pendampingan Program Inovasi Seni Nusantara telah membuka ruang baru bagi para seniman lokal untuk menyesuaikan diri dengan dunia pariwisata tanpa kehilangan jati diri budaya.

“Kami ingin budaya Dayak dikenal luas, tapi tetap berakar pada nilai-nilai lokal,” ujarnya.

Program PISN tidak hanya menghidupkan kembali ekspresi seni Dayak, tetapi juga menumbuhkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas kreatif.

Antusiasme masyarakat pada Pesona Hanjak Sabangau menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi medium pemberdayaan sekaligus penggerak wisata budaya yang berkelanjutan di Kalimantan Tengah.

Dengan dukungan Kemendikti Saintek, model pengabdian masyarakat berbasis seni ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.

Bagi Muhamad Romadoni, dukungan tersebut menunjukkan bahwa inovasi budaya dapat berjalan seiring dengan riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

“Ketika seni menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan sumber penghidupan, di situlah kebudayaan benar-benar hidup,” tutupnya. (Muhamad Romadoni, M.Pd.)

Rekomendasi Berita