Polri, Permata di Lumpur Bencana
- 15 Jan 2026 17:32 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Bencana alam telah merenggut segalanya, baik itu nyawa, harta benda, tenaga bahkan air mata. Dalam nestapa yang masih menorehkan luka dan duka, masih ditemui orang-orang yang bekerja dengan kesungguhan hatinya. Tekad mengabdi pada negeri menjadi motivasi untuk jawaban pasti yang dinanti ribuan bahkan jutaan keluarga yang dirundung malang. Diyakini, tidak semua orang sanggup melakukan pekerjaan itu, ya profesi mulia yang pada satu sisi menuntut bakti dan ketulusan hati.
Tersebutlah nama seorang dokter polisi wanita bernama Eka Purnama Sari yang kini memperkuat Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumatera Barat. Sulung dari dua bersaudara ini dikenal sebagai sosok yang gigih dan bertanggungjawab. Lelah yang mendera tubuh selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan pasca bencana, tak dihiraukan. Bersama Tim DVI Polda Sumatera Barat, dr. Eka yang kini menjabat Kasubdiddokpol Polda Sumbar fokus menangani jenazah korban bencana alam, dari satu peristiwa ke pristiwa lainnya.
Pengorbanan yang diperbuat, kadang tak sebanding dengan perlakuan yang ia dapat. Mendapat pujian dan apresiasi, bukan itu tujuannya. Panggilan profesilah yang menuntun langkah dr. Eka senantiasa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dalam setiap langkahnya, ia selalu berdoa, mendapatkan kemudahan dalam menjalani profesi. Kerja keras dan perjuangan bersama tim akan berbalas kebaikan untuk orang-orang yang menurutnya patut mendapat perhatian.
Kinerja dr. Eka memang tidak terpampang secara gamblang di ranah publik. Namun di balik layar, ialah pahlawan sejati. Selaku dokter polisi, ia berupaya mengungkap tabir identitas diri jenazah yang diidentifikasi. Dengan berbagai cara, menggunakan metoda keilmuan yang dimiliki, dr. Eka berupaya merangkul jiwa-jiwa pesimis agar tetap optimis menunggu hasil identifikasi medis.
Satu pernyataan tanpa keraguan yang dituliskan dalam sepucuk kertas berkekuatan hukum menjadi penentu takdir bagi seseorang. Benarkan orang yang disayangi masih hidup, lantas siapakah gerangan jasad yang terbujur kaku di ruangan jenazah itu. Beragam pertanyaan dan keraguan mendera jiwa-jiwa lelah yang menunggu kepastian identitas jasad dari tim medis.
Ratusan bahkan ribuan jenazah yang menjadi korban dalam berbagai peristiwa sudah ia tangani dengan baik. Kesemua jenazah bahkan yang hanya berupa potongan tulang dan segumpal daging pun tetap diserahkan kepada pihak keluarga untuk selanjutnya dimakamkan dengan cara yang lebih layak.
“Jenazah semestinya diperlakukan dengan baik, sekalipun yang tersisa dari bencana hanya berupa potongan tulang atau segumpal daging dan otot dari tubuh yang tidak lagi utuh,” ungkap dr.Eka Purnama Sari saat diwawancarai RRI, Jumat, (26/12/2025).

Wawancara Reporter RRI Padang (Sri Darni) dengan dokter polisi wanita Tim DVI Polda Sumatera Barat, dr. Eka Purnama Sari pada Jumat, (26/12/2025). (Foto:RRI)
Faktanya jelas dr. Eka, baik keluarga maupun jenazah korban bencana memiliki hak asasi yang dilindungi dan dijunjung tinggi. Status hidup dan mati seseorang penting diketahui karena rujukan selanjutnya mengarah pada pemenuhan hak orang lain atau kerabat korban. Hal itu berlaku sepenuhnya, baik bagi keluarga yang ditinggalkan maupun jenazah korban bencana.
“Tantangan inilah yang membuat saya bertahan dan mensyukuri hikmah pekerjaan yang pada satu sisi belum diketahui manfaatnya oleh masyarakat luas. Ada perasaan haru, saat menyaksikan seorang ibu menunggu berhari-hari di bangku rumah sakit. Air mata yang setiap saat berurai menandakan suasana hatinya yang hancur berkeping-keping. Dengan segala kekuatan, ia mencoba bertahan, menata hatinya demi menunggu hasil identifikasi jenazah. Si ibu tidak tidur karena terus memikirkan nasib anak yang dikasihi. Saat hasil identifikasi disampaikan, ia dengan spontan memeluk jenazah si anak, menumpahkan tangis dan kerinduannya selama masa penantian di rumah sakit. Meski si ibu sadar, jasad yang dipelukannya tidak lagi bisa menjawab kerinduan itu, namun itulah kasih sayang seorang ibu yang tidak terhalang oleh waktu dan alam kini memisahkan keduanya. Pada saat itulah saya tersadar, keberadaan saya ternyata memberi arti dan manfaat bagi banyak orang,” paparnya.

Penyerahan jenazah korban bencana kepada pihak keluarga berdasarkan hasil identifikasi Tim DVI Polda Sumatera Barat. (Dok: Pribadi/DVI Polda Sumbar).
dr. Eka, sejak kecilnya sudah terinspirasi oleh sosok Dokter Sartika yang diperankan aktris Dwi Yull dalam sinetron legendaris yang tayang di televisi pada era tahun 80-an. Ia terobsesi mengikuti jejak pengabdian sang idola. Benar adanya, sosok dan kemampuan dr Eka nyatanya sangat dibutuhkan banyak orang, terlebih jika dikaitkan dengan kondisi alam Sumatera Barat yang rawan bencana.
Peristiwa alam hampir terjadi dalam setiap waktu. Gempa dan ancaman tsunami hal yang tidak bisa dipungkiri. Belum lagi erupsi Gunung Marapi yang disusul rentet bencana banjir bandang dan galodo yang terjadi dalam rentang waktu yang tidak berjauhan. Kesemua itu tantangan yang makin menguatkan keyakinan dr, Eka agar mensyukuri nikmat dan jalan yang telah dipilihkan oleh sang pencipta padanya.
Pengalaman demi pengalaman yang ia terus asah di berbagai peristiwa alam tidak lantas menjadikannya puas seketika. Sebaliknya, ia menyadari kemampuan yang dimiliki adalah titipan Yang Maha Kuasa yang semestinya ia manfaatkan untuk menolong dan menyeka air mata orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.
“Saat jasad atau potongan tubuh sudah berada di kamar jenazah, yang terpikirkan oleh saya bagaimana saya dan tim bekerja maksimal. Sejatinya, jenazah mesti dikembalikan kepada keluarganya. Keluarga berhak mendapatkan kepastian tentang status orang-orangyang dilaporkan hilang dalam bencana. Ribuan jenazah termasuk potongan tubuh yang sudah saya identifikasi bersama tim. Mereka umumnya korban bencana alam dari berbagai peristiwa dengan lokasi tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia,” papar perempuan kelahiran Padang, 2 Juni 1977.
dr. Eka, salah satu contoh dokter polisi wanita di Indonesia yang mengabdikan hidupnya demi kebahagiaan orang-orang yang menunggu kepastian identitas diri. Nilai pengabdiannya tidak terukur lagi, karena baktinya kepada negeri tidak didasari keinginan untuk mendapatkan pamrih dan apresiasi. Di balik layar ia bersinergi, demi tegak dan terpenuhinya hak asasi jenazah yang sebelumnya tak dikenali.
Aksi Humanis Polisi Wanita yang Terekam di Dapur Bencana
Pasca bencana menyisakan duka bagi warga yang kehilangan sanak keluarga. Mereka yang masih diberi kesempatan hidup, katakanlah selamat dari bencana butuh perhatian, perlindungan bahkan rangkulan semangat untuk bangkit kembali. Trauma tidak serta merta bisa langsung dihapus atau ditepis. Perlu dukungan lingkungan yang perlahan-lahan menguatkan mental agar warga bisa bangkit dan menata lembaran kehidupan barunya.
Dapur umum salah satu fase nyata bentuk dukungan moril terhadap warga terdampak bencana. Di dapur umum ini, puluhan Polisi Wanita Ditpamobvit Polda Sumatera Barat menunjukkan kontribusinya terhadap sesama. Dalam situasi apa pun, kebutuhan pangan warga terdampak bencana mesti dipenuhi oleh pemerintah atau pun negara karena inilah tanggungjawab yang sesungguhnya.
“Sama halnya keberadaan kami di sini, semata membantu warga yang membutuhkan pertolongan. Ada balita, anak-anak bahkan lansia yang termasuk kelompok rentan sehingga perlu penanganan untuk pemulihan kondisi fisik dan mental mereka ke depan,” ujar Kompol Arisna Aswanti yang menjabat Pakor Polwan Polda Sumatera Barat.
Menurutnya, warga yang mengungsi umumnya dalam kondisi fisik yang memprihatinkan. Tak sehelai bahan kebutuhan sandang yang bisa mereka selamatkan. Pakaian yang ada, hanya yang melekat di badan. Selebihnya punah dibawa arus air dan galodo.
“Mereka datang ke pengungsian dengan membawa duka dan air mata. Meski selamat dari bencana, perasaan warga pastinya hancur saat menyaksikan maut merenggut nyawa anggota keluarganya. Dalam situasi seperti ini, mereka butuh perhatian dan sikap peduli dari sesama. Bisa dibayangkan kesedihan yang mereka rasakan saat menjalani hari-hari di tenda – tenda pengungsian, tidur hanya dengan beralaskan tikar. Saat malam tiba, suasana makin mencekam dengan bekal lampu penerangan seadanya. Belum lagi dingin yang menyeruak tulang belulang. Seketika muncul pemikiran, untuk mendistribusikan selimut yang nantinya dipakai saat tidur di tenda pengungsian,” tutur perempuan yang akrab disapa Ari itu.
Saat ditemui RRI di lokasi, tepatnya Dapur Umum Palambayan, perempuan kelahiran Payakumbuh, 10 Juni 1978 fokus dengan pekerjaannya. Bersama polwan lainnya, Kompol Arisna ikut membantu proses penyiapan kosumsi pangan yang layak bagi para pengungsi.

Aksi Polwan Ditpamobvit Polda Sumatera Barat yang terekam pada salah satu dapur umum di Palambayan. (Foto: Sri Darni/RRI).
Dapur umum yang didirikan Polda Sumatera Barat langsung menyentuh sasaran yang tersebar pada berbagai lokasi. Tidak hanya di Kota Padang, kontribusi polisi wanita mengalir cepat ke daerah lain seperti Kabupaten Agam, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Pesisir Selatan dan Pasaman.
“Tidak menunggu lama, kami segera bergerak ke lokasi yang menjadi sasaran pendirian dapur umum. Benar saja, warga terdampak bencana yang telah kehilangan rumah dan hartanya, membutuhkan uluran tangan dan perhatian. Mereka butuh kosumsi pangan untuk bisa bertahan hidup. Mereka butuh tempat berteduh sementara untuk berlindung dari hujan dan panas. Dalam kondisi darurat itu, kami juga melihat balita, anak-anak bahkan lansia yang butuh penanganan cepat,” ungkapnya membayangkan situasi sulit yang dihadapi warga di lapangan.
Saat Polwan Taklukkan Medan Ekstrem demi Pulihkan Trauma Anak (Healing)
Perjalanan yang ditempuh puluhan Polwan Ditpamobvit Polda Sumatera Barat di Palambayan, Kabupaten Agam memang berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Kali ini tantangannya jauh lebih berisiko dengan kondisi medan yang cukup ekstrem. Namun hal itu tidak menyurutkan niat dan tekad polisi wanita untuk segera menjamah sudut nagari yang di sana sudah menanti puluhan bahkan ratusan anak terdampak bencana.
Program healing yang bakal digelar melintasi jalanan berbatu dan terjal dengan menyeberang sungai untuk sampai ke perkampungan. Masing-masing polwan membawa logistik yang dipikul dengan menggunakan kedua tangan. Tidak ada tumpangan atau peralatan yang memudahkan pengangkutan logisik ke daerah tersebut. Satu – satunya jalan dengan menjinjing logistik tersebut menggunakan tenaga personil.

Ketika para polwan menaklukkan medan ekstrem demi memulihkan trauma anak-anak terdampak bencana. (Foto: Sri Darni/RRI Padang).
Dalam hitungan waktu lebih dari satu jam, personil sampai di perkampungan. Anak-anak sudah menunggu kedatangan mereka. Pada satu sisi tidak bisa dipungkiri, bencana yang datang susul menyusul memberi pukulan mental bagi anak, apalagi jika mereka langsung menyaksikan keadaan yang otomatis mempengaruhi kondisi psikisnya.
Dalam hal ini jelas Kompol Arisna, perlu program healing untuk pemulihan mental anak ke depan. Bagaimana memulihkan semangat dan rasa percaya diri anak sehingga mereka tidak mengalami trauma seumur hidupnya.
Inilah saatnya polisi wanita menunjukkan bakti kepada negeri. Mereka anak-anak yang sejatinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Masa depan mereka, gambaran kekuatan bangsa ini ke depan. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, polisi wanita Polda Sumatera Barat menyelenggarakan program healing yang langsung menyentuh sasaran di lapangan. Anak-anak yang sebelumnya menyembunyikan trauma dan ketakutannya dalam diam, perlahan digiring dalam metode healing yang berupa permainan ceria.

Program healing yang diinisiasi Polwan Polda Sumbar perlahan pulihkan trauma anak-anak terdampak bencana. (Foto: Sri Darni/RRi Padang).
Polisi wanita segera berbaur dalam permainan tersebut, merangkul anak-anak agar ikut bermain bersama. Tidak butuh waktu lama, anak-anak tersebut terpancing ikut dalam permainan dan tanpa dikira, canda bahkan tawa mulai terdengar. Diam mereka perlahan menuai senyuman dan sesekali terdengar canda yang diiringi tawa bersama.
“Air mata saya menitik karena tak sanggup menahan perasaan haru. Begitu juga dengan ayah ibu mereka. Meski yang ikut permainan hanya balita dan anak, namun pemandangan sekeliling menghidupkan suasana yang beku sebelumnya. Terbukti, kebahagian orang tua terpaut dari bahagia yang dirasakan si anak. Betul-betul kami terharu, bahkan polwan yang ikut bermain, menitikkan air mata yang maknanya sulit diungkapkan dengan kata-kata,” urai ibu dua anak ini.
Sinergi Polwan Wanita di akhir Masa Tanggap Bencana
Tidak ada pekerjaan yang dirasa berat, jika dilakukan dengan dasar ketulusan dan niat yang ikhlas. Itulah yang kemudian dirasakan srikandi-srikandi tangguh Polda Sumatera Barat. Berhari-hari bergelut dengan lumpur di lokasi pengungsian, tak membuat mereka menyerah. Justeru jiwa peduli dan kepekaan menolong sesama makin terasah.
Intan, salah seorang polisi wanita mengungkapkan, rasa lelah yang mendera tubuh selama berhari-hari terbayarkan saat menyaksikan puluhan anak dan pengungsi lainnya menata senyum di bibirnya. Sepenggal harapan menggantung dalam nestapa yang baru saja mereka lalui.
“Sedih rasanya berpisah dengan anak-anak itu. Mereka anak-anak yang kuat yang suatu saat nanti akan menjadi pahlawan bagi negerinya,” ujar Intan saat mengantar puluhan anak kembali ke pengungsian.

Sinergi Polwan Ditpamobvit Polda Sumbar saat mengantar anak-anak terdampak bencana ke lokasi pengungsian sementara. (Foto: Sri Darni/RRI Padang).
Perasaan yang sama juga dirasakan Tiara, Polwan Ditpamobvit Polda Sumbar.
“Ini pengalaman perdana saya berada di pengungsian dalam rentang waktu yang terbilang cukup panjang. Banyak kejadian yang saya temui di lapangan dan kesemua itu ternyata menjadi kekuatan bagi saya untuk selalu menabur jiwa peduli,”ujar polisi wanita yang aktif dalam kegiatan layanan kesehatan terhadap warga terdampak bencana.
Kesehatan warga terdampak bencana hal prioritas yang belum semua orang menyadarinya. Selama beraktifitas di daerah terdampak bencana, Tiara menilai, layanan kesehatan cenderung terabaikan sehingga perlu dibenahi ke depan.

Tim kesehatan Polda Sumatera Barat melakukan penanganan kesehatan kepada anak terdampak bencana di pengungsian. (Foto: Sri Darni/RRI Padang)
“Yang paling terdampak usai bencana adalah kelompok balita, anak dan lansia. Pada situasi tersebut, pemerintah memang harus menyiapkan personilnya untuk menembus lokasi yang pada umumnya berada di daerah pedalaman,” ujarnya.
Keberadaan pos layanan kesehatan Polda Sumatera Barat di lokasi terdampak bencana sangat membantu kesulitan warga. Selaku personil yang dilbatkan dalam layanan kesehatan tersebut, Tiara merasa bersyukur tentunya karena keberadaannya memberi manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Aksi Nyata Polri Peduli di Kampung Bebas Narkoba
Masih dari lokasi terdampak bencana, tepatnya di Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, polisi wanita dan personil dari Satuan Narkoba Polresta Bukittinggi menyingsing lengan baju, menyisir lokasi beberapa saat setelah peristiwa alam, banjir bandang dan galodo memporak-porandakan negeri sekitarnya.
Bencana alam di penghujung November 2025 telah menimbulkan kerusakan dan utamanya aktifitas di Kampung Bebas Narkoba Jorong Galugua pun terhenti untuk beberapa waktu, jelang dilakukan pemulihan.
Hal itu diutarakan Kasat Narkoba Polresta Bukittinggi, AKP Nofridal kepada RRI, Minggu, (28/12/2025). Menurutnya, untuk beberapa waktu ke depan, aktifitas pembinaan di Kampung Bebas Narkoba dialihkan pada upaya penanganan kebencanaan.

Satuan Narkoba Polresta Bukittinggi segera meluncur ke lokasi bencana, Jorong Galugua untuk mendistribusikan logistik. (Dok: Pribadi/Polresta Bukittinggi).
“Dengan kondisi kebencanan yang menyorot perhatian berbagai pihak, otomatis kegiatan pembinaan dan rehabilitasi terhadap para pemakai narkoba ditangguhkan sementara waktu. Perhatian untuk saat ini lebih dioptimalkan pada sisi penanggulan kebencanaan karena ada ratusan Kepala Keluarga (KK) yang terdampak bencana. Kami dari Satuan Narkoba Polresta Bukittinggi langsung bergerak ke lokasi guna membantu warga terdampak bencana yang membutuhkan pertolongan,” tutur AKP Nofridal ditemui di lokasi bencana, Jorong Galugua, Kabupaten Agam.
Kinerja Humanis Polri di Kampung Bebas Narkoba
Jorong Galugua, Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, salah satu basis pembinaan yang menjadi pusat rehabilitasi bagi pemakai narkoba. Di sini, didirikan Posko Kampung Bebas Narkoba yang kegiatannya telah dirasakan manfaatnya oleh warga.
“Sejak berdirinya Posko Kampung Bebas Narkoba, warga tidak khawatir lagi kampungnya bakal dirusak oleh aksi para pengedar. Anak-anak kami terlindungi karena hampir setiap waktu dan kesempatan, bapak-bapak dari kepolisian memberikan pembinaan sekaligus pencerahan kepada warga, utamanya remaja yang cenderung terjebak penggunaan barang terlarang itu,” ujar Surman, warga setempat.
Warga lainnya, Anida juga merasakan kinerja polisi mendirikan Posko Kampung Bebas Narkoba di kampungnya menciptakan situasi kampung jauh lebih kondusif. Menurutnya, suasana kampung sudah jauh lebih aman dibanding sebelum program bergulir.

Keberadaan Posko Kampung Bebas Narkoba (cat pink) di Jorong Galugua, Kabupaten Agam, upaya humanis Polri dalam memerangi narkoba. (Foto: Pribadi/Polresta Bukittinggi).
“Program Kampung Bebas Narkoba, menjauhkan kampung kami dari aksi kejahatan yang utamanya dilakukan anak-anak muda yang sudah terkontaminasi pengaruh narkoba. Tentunya kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak polisi dan berharap saat situasi pulih, program Kampung Bebas Narkoba bisa berjalan kembali,” ungkap perempuan yang berprofesi sebagai tenaga pendidik pada salah satu Sekolah Dasar (SD) di Jorong Galugua.
Sejatinya, bencana alam peringatan sekaligus bukti kasih sayang sang pencipta yang tidak berbatas pada umatnya. Namun tak dipungkiri pula, bencana membuka mata banyak orang akan sisi kehidupan lainnya.

Bencana alam yang melanda negeri, bukti nyata Polri untuk Masyarakat. (Foto: Sri Darni/RRi Padang).
Selama ini mungkin dari kita tidak banyak yang mengetahui eksistensi, andil dan sinergi Polri berbuat untuk masyarakat negeri. Bencana telah membukakan mata banyak orang, akan sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Polri hadir dalam berbagai suasana, dalam rupa dan apa pun kejadian yang menimpa negeri tercinta. Slogan yang bertuliskan Polri untuk Masyarakat adalah sesuatu yang nyata. Nyata adanya, nyata aksinya dan nyata manfaatnya untuk masyarakat Indonesia.