Grand Prix Bahrain di Malaysia Dibayangi Suhu Panas hingga Kabut Asap

  • 01 Okt 2026 15:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • GP Bahrain yang digelar di Sepang 2–4 Oktober menghadapi cuaca panas, hujan, dan kabut asap.
  • Suhu Sepang diperkirakan mencapai 33–35 derajat Celsius, dengan peluang hujan hingga 50 persen.
  • Pemerintah Malaysia memastikan balapan tetap berlangsung.

RRI.CO.ID, Jakarta – Grand Prix Bahrain yang dijadwal ulang akhir pekan ini di Malaysia bakal dihadapkan dengan sejumlah ujian berat. Balapan yang berlangsung di Sirkuit Sepang pada 2–4 Oktober itu kini dibayangi cuaca panas, potensi hujan, hingga kabut asap dampak karhutla Indonesia.

Bahrain dan Arab Saudi sebelumnya dicoret dari kalender menyusul situasi keamanan di kawasan Timur Tengah pada April. Formula 1 kemudian menjadwalkan kembali balapan Bahrain di Malaysia untuk menjaga seri tersebut tetap berlangsung.

Ini jadi momen kembalinya F1 ke Sepang setelah sembilan tahun absen dari kalender. Nama “Bahrain Grand Prix” tetap dipakai usai perbincangan panjang kedua pemerintah negara.

FIA resmi menetapkan GP Bahrain di Malaysia sebagai balapan berisiko panas ekstrem atau Heat Hazard. Melansir prakiraan resmi F1, suhu udara akan mencapai 33 hingga 35 derajat Celsius sepanjang pekan balapan.

Berdasarkan Pasal B1.5.10 Regulasi F1 FIA, status Heat Hazard harus ditetapkan jika indeks panas lebih dari 31 derajat Celcius. Aturan itu juga mengharuskan Tim memasang sistem pendingin pada mobil selama balapan.

FIA memperbolehkan tim memasang cooling vest pada pembalap ketika status Heat Hazard diberlakukan. Meskipun penggunaannya tidak bersifat wajib.

Namun, pembalap yang tidak memakai cooling vest harus menerima tambahan pemberat (ballast) 0,5kg pada mobilnya. Ketentuan tersebut untuk memastikan balapan tetap adil tanpa ada pembalap yang diuntungkan, karena setiap detik dan bobot di F1 sangat diperhitungkan.

Selain suhu panas, Sepang juga berpotensi diguyur hujan sepanjang tiga hari. Potensi hujan pada Jumat mencapai 50 persen, 40 persen pada Sabtu, dan 30 persen pada Minggu saat balapan.

Kondisinya diperparah dengan adanya kabut asap yang masih menyelimuti Malaysia akibat karhutla yang meluas di Indonesia. Berdasarkan data IQAir hingga Rabu, 30 September, Kuala Lumpur berada di peringkat pertama kota dengan tingkat polusi terburuk.

Air Quality Index (AQI) nya mencapai 165. Kualitas udara di banyak wilayah juga berfluktuasi antara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Meski akan tetap berlangsung, hingga saat ini penyelenggara belum memberikan pernyataan resmi soal kondisi tersebut. Di satu sisi, para pembalap juga harus betul-betul melakukan penyesuaian fisik dengan iklim tropis di Malaysia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....