Malaysia Tuan Rumah, Penjualan Tiket F1 di Sepang Tetap Diatur Pemerintah Bahrain
- 29 Jul 2026 16:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Bahrain tetap memiliki hak menetapkan penjualan tiket Formula 1 di Sirkuit Sepang, Oktober mendatang..
- Balapan ini secara resmi dinamai 'Gulf Air Bahrain Grand Prix in Malaysia' karena hanya menggantikan seri Bahrain yang dibatalkan dalam kalender musim Formula 1.
- Pihak SIC mengupayakan akan ada harga khusus yang lebih terjangkau bagi pemegang MyKad.
RRI.CO.ID, Jakarta – Penjualan Tiket Formula 1 di Sepang tetap diatur Pemerintah Bahrain, meski Malaysia menjadi tuan rumah pada Oktober mendatang. Seluruh pendapatan penjualan tiket dipastikan menjadi hak Bahrain sebagai penyelenggara.
Balapan di Sepang tersebut tidak serta merta menjadikannya Grand Prix Malaysia. F1 menetapkan nama resmi "Gulf Air Bahrain Grand Prix in Malaysia", karena hanya menggantikan seri Bahrain yang dibatalkan.
"Seluruh pendapatan tiket akan kembali ke Bahrain. Sehingga kami tidak memiliki kewenangan penuh," kata Chief Executive Officer Sepang International Circuit (SIC), Azhan Shafriman Hanif, dikutip dari The Strait Times, Rabu, 29 Juli 2026
Azhan mengatakan pihaknya tetap akan melakukan negosiasi untuk menghadirkan harga tiket yang terjangkau bagi warga Malaysia. Ia berharap tersedia harga khusus bagi pemegang MyKad, kartu identitas nasional berteknologi cip milik warga negara Malaysia.
Lebih lanjut, Azhan mengatakan delegasi Bahrain dijadwalkan tiba di Malaysia pekan depan untuk menggelar negosiasi secara langsung. Pertemuan itu diharapkan memberi kejelasan mengenai penjualan tiket, layanan hospitalitas, dan aspek komersial lainnya.
"Tim mereka akan datang ke sini secara langsung pekan depan, sehingga kami akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Pekan ini kami masih menggelar rapat secara daring," ujarnya.
Selain itu, Azhan juga menjelaskan pembagian tanggung jawab selama penyelenggaraan balapan. Ia mengatakan biaya hak penyelenggaraan ditanggung Bahrain, sementara biaya operasional akan ditanggung bersama SIC.
Meski biayanya dikabarkan cukup besar, Azhan menilai penyelenggaraan Formula 1 tetap memberikan keuntungan ekonomi bagi Malaysia. Menurutnya, negara tuan rumah biasanya memperoleh dampak ekonomi lebih dari tiga kali lipat.
Nilai tersebut berasal dari peningkatan pariwisata, bisnis, dan aktivitas ekonomi lainnya. "Malaysia berpotensi meraih dampak ekonomi senilai lebih dari RM1 miliar (dari penyelenggaraan F1 Grand Prix)," ucap Azhan.
Di sisi lain, perwakilan Formula 1 telah melakukan inspeksi awal terhadap Sirkuit Sepang beberapa waktu lalu. Hasilnya, tidak ditemukan kendala besar yang menghambat penyelenggaraan balapan.
Sirkuit Sepang dikabarkan masih memenuhi standar sertifikasi FIA Grade 1. Namun, peningkatan area run-off, gravel, dan sejumlah infrastruktur tetap dilakukan sesuai standar Formula 1.
Azhan yakin popularitas Formula 1 saat ini akan meningkatkan kunjungan wisata dan peluang bisnis Malaysia. Ia menegaskan fokus utama SIC kini adalah menyukseskan balapan sebelum mempertimbangkan kembalinya Formula 1 secara permanen di Malaysia.
Untuk diketahui, balapan di Sepang ini merupakan pengganti Grand Prix Bahrain yang seharusnya diselenggarakan pada April lalu. Namun, balapan tersebut harus dibatalkan akibat ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....