Mengenal "Meuseuraya", Gotong Royong Khas Aceh
- 26 Jan 2024 11:05 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe, kembali menggerakkan kegiatan Gotong Royong sebagaimana yang telah dirintis oleh Pj Walikota sebelumnya, Dr. Imran. Gotong Royong setiap Jum’at di Lhokseumawe sempat terhenti beberapa pekan, karena pergantian Pj Walikota dari Imran ke A. Hanan.
Namun baru-baru ini, Pj Walikota A. Hanan menerbitkan keputusan yang disusul dengan surat Nomor 005/14, Perihal Gerakan Bersih Waduk dan Lingkungan sekitar. Keputusan Pj Walikota itu, berbunyi:
1. Dalam rangka mewujudkan Lingkungan Bersih dan Peduli Sampah dalam Wilayah Kota Lhokseumawe, kami mengharapkan dukungan Bapak/Saudara kiranya dapat melakukan Gerakan Bersih Lingkungan dan Peduli Sampah di sekitar Lingkungan instansi masing-masing secara terjadwal.
2. Berkenaan dengan maksud tersebut, sebagai Pencanangan Gerakan, kami mengajak peran dan partisipasi Bapak/Saudara untuk turut serta dan mengikutsertakan personil masing-masing instansi pada kegiatan Pembersihan Waduk dan Lingkungan sekitar pada:
Hari : Jumat
Tanggal : 26 Januari 2024
Pukul : 07.00 Wib s.d Selesai
Tempat : Waduk Pusong-Keude Aceh-Mon Geudong
3. Demikian kami sampaikan atas perhatian dan kerja sama yang baik kami ucapkan terima kasih.
Surat Keputusan Pj Walikota itu, kemudian dinyatakan dengan pencanangan kembali di lokasi Waduk Pusong, Kecamatan Banda Sakti, pada Jum’at (26/1/2024) pagi. Setelah itu, peserta Gotong Royong dari berbagai unsur, bersama-sama Pemko membersihkan lokasi Waduk dan sekitarnya.
Gotong Royong adalah inti solidaritas bangsa ini. Jika Pancasila diperas, maka intinya adalah gotong royong. Praktisi ilmu Antropologi Universitas Malikussaleh, Teuku Kemal Pasya, M.Hum mengatakan, dalam tradisi Aceh gotong royong diterjemahkan dengan “Meuseuraya”.
“Meuseuraya” dengan kata lainnya adalah menyisihkan apa yang dipunyai seseorang, baik berbentuk pikiran, materi, maupun tenaga untuk kepentingan orang banyak (publik). Pemberian itu harus ikhlas, tidak pamrih atau “Cok Pulang Pangkai Awai” (berharap kembalian dari sesuatu yang diperbuat).
Namun sayangnya, kini menurut praktisi budaya, “Meuseuraya” ditengah masyarakat Bumi Serambi Mekkah sudah terkikis habis, umpama pohon-pohon yang ditebang. Kalau pun semangat itu masih tersisa tetapi tidak sekuat 30-60 tahun yang lalu, dan perlu waktu untuk mengembalikannya.
Sangat kita sayangkan memang. Gotong royong yang menjadi salah satu ciri khas kehidupan masyarakat Indonesia, sebagaimana tertuang pada Sila ke Tiga Pancasila yang berbunyi Persatuan Indonesia. Padahal Gotong royong sendiri berasal dari kata Gotong berarti bekerja dan Royong berarti Bersama.
Tim Redaksi rri.co.id juga merangkum beberapa manfaat dan Tujuan Gotong Royong, atau yang disebut sebagai “Meuseuraya” dalam bahasa Aceh.
Manfaat dan tujuannya, antara lain:
1. Menumbuhkan rasa dan sikap saling tolong menolong, sukarela, saling membantu, dan mempunyai sifat kekeluargaan.
2. Membina hubungan sosial yang baik terhadap masyarakat disekitar.
3. Menciptakan rasa kebersamaan dan menumbuhkan rasa kasih sayang.
4. Mempererat tali silahturahmi atau persaudaraan.
5. Meringankan pekerjaan dan menghemat waktu dalam menuntaskan suatu pekerjaan.
6. Meningkatkan produktivitas kerja.
7. Terciptanya rasa persatuan dan kesatuan di dalam lingkungan sekitar.
Semoga menjadi pencerahan.
(Ditulis oleh Reporter Senior RRI Lhokseumawe, Denny Pribadi Yusman)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....