Ama Sufi Bertahan Melestarikan Kerajinan Tradisional

  • 31 Mei 2026 20:22 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO,ID, Nias Selatan – Kerajinan ukir kayu tradisional di Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, terus bertahan di tengah perkembangan zaman berkat dedikasi para pengrajin yang tetap melestarikan warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah pengrajin Gallery Sanora Toanö, Hiburan Zagötö atau yang akrab disapa Ama Sufi Zagötö.

Ama Sufi mengaku telah menekuni dunia kerajinan tangan selama kurang lebih 50 tahun. Awalnya, Ia hanya membuat berbagai jenis patung tradisional. Seiring berjalannya waktu, keterampilannya terus berkembang hingga menghasilkan beragam ukiran khas Nias Selatan, termasuk Tolögu yang kini menjadi salah satu karya yang banyak diminati pengunjung.

Menurut Ama Sufi, ketertarikannya menjadi pengrajin berawal dari kecintaannya terhadap benda-benda bersejarah dan budaya peninggalan leluhur. Selain menjadi aktivitas yang telah dijalani sejak lama, hasil kerajinan tersebut juga menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berbagai produk yang dihasilkan antara lain asbak ukir, miniatur lompat batu, patung pasangan kecil, miniatur manibo Harimau, Tolögu, patung modern hingga patung primitif yang menggambarkan kehidupan masyarakat Nias Selatan pada masa lampau. Setiap pahatan memiliki makna sejarah dan filosofi tersendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Harga setiap kerajinan berbeda-beda, tergantung tingkat kerumitan pengerjaan, kualitas bahan kayu yang digunakan, ukuran kayu, serta waktu yang dibutuhkan dalam proses pembuatannya, tidak semua karya dibuat berdasarkan contoh gambar yang tersedia, karena sebagian di antaranya lahir dari imajinasi dan kreativitas pengrajin," ujarnya, Minggu 31 Mei 2026.

Meski demikian, Ama Sufi mengaku prihatin melihat jumlah pengrajin di Desa Bawomataluo yang terus berkurang. Ia khawatir keterampilan mengukir yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Nias, khususnya di Nias Selatan suatu saat tidak lagi memiliki penerus. Bahkan, anaknya yang memiliki bakat mengukir memilih merantau ke luar daerah untuk mencari pekerjaan lain.

Hingga saat ini, usaha kerajinan yang dijalankannya masih dilakukan secara mandiri. Ama Sufi berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah maupun dinas terkait melalui pembinaan, pelatihan, serta pengembangan usaha agar kerajinan tradisional Nias Selatan dapat terus lestari dan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat setempat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....