Kendala Pengembangan Kerajinan Anyaman di Desa Hiliamaetaniha

  • 16 Apr 2025 17:24 WIB
  •  Nias Selatan

KBRN, Nias Selatan: Kerajinan tangan atau anyaman, adalah warisan tradisional yang kian terpinggirkan, kini menghadapi tantangan serius dalam pengembangannya. Potensi ekonomi yang seharusnya dimiliki oleh kerajinan berbahan dasar alam seperti daun pandan berduri yang disebut Sinasa dan daun Balali tau daun nyiur belum mampu dimaksimalkan oleh para pengrajin di Desa Hiliamaetaniha, Kecamatan Luahagundre Maniamolo.

Menurut Amurizohahau Wau, Ketua Badan Permusyawaratan Desa Hiliamaetaniha, kepada RRI rendahnya minat beli menjadi faktor utama lesunya penjualan hasil anyaman. Produk-produk seperti tikar, kantung sirih (Bolanafo), dan caping (Sou Bagoa) kurang diminati, sehingga para pengrajin kehilangan motivasi untuk memproduksi dalam skala besar.

Pendapatan yang tidak sesuai harapan semakin memperburuk kondisi saat ini. “Minimnya promosi juga menjadi penyebab utama rendahnya tingkat penjualan kerajinan anyaman ini. Bahwa belum adanya wadah atau tempat penampungan permanen untuk memasarkan produk anyaman menjadi kendala besar,” ujarnya, Rabu (16/4/2025).

Salah satu pengrajin anyaman di desa Hiliamaetaniha

Ia berharap agar desa dapat menampung hasil kerajinan, hal ini juga terkendala oleh keterbatasan anggaran Dana Desa yang tersedia. Padahal, wilayah Nias Selatan dikenal sebagai destinasi wisata yang ramai dikunjungi.

Untuk mengatasi permasalahan ini, adanya uluran tangan dari Pemerintah Daerah. Pihaknya juga telah mengusulkan pembentukan Unit Kegiatan Mikro (UKM) Kerajinan Anyaman di Desa Hiliamaetaniha kepada Pemerintah Kabupaten Nias Selatan.

Realisasi usulan ini diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, tetapi juga dapat melestarikan kerajinan tradisional agar tetap eksis di generasi mendatang. Dengan adanya dukungan berupa pembentukan UKM, para pengrajin akan memiliki wadah yang terorganisir untuk produksi, pemasaran, dan promosi produk mereka. Serta pelatihan dan pendampingan juga dapat meningkatkan kualitas desain dan inovasi produk anyaman agar lebih menarik minat konsumen, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Langkah konkrit dari Pemerintah Daerah sangat dibutuhkan untuk menghidupkan kembali potensi kerajinan anyaman di Desa Hiliamaetaniha. Investasi dalam promosi, pelatihan, dan pembentukan infrastruktur pemasaran akan menjadi kunci keberhasilan dalam memberdayakan para pengrajin dan melestarikan warisan budaya yang berharga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....