Tolögu Nias Selatan Didokumentasikan dan Dipamerkan sebagai Warisan Budaya

  • 30 Mei 2026 11:10 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO.ID, Nias Selatan – Dokumentasi pembuatan Tolögu atau pedang adat Nias menjadi fokus penelitian dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa, yang akrab disapa Wibi. Penelitian tersebut telah dilakukan sejak November 2022 hingga tahun 2026 di Kabupaten Nias Selatan.

Wibi mengatakan ketertarikannya terhadap Tolögu berawal dari penelitian mengenai koleksi benda-benda budaya Nias yang tersimpan di Italia. Dalam berbagai kajian material dan sejarah yang dilakukan peneliti Barat, Tolögu disebut sebagai salah satu artefak budaya Nias yang paling sulit ditemukan dan diperoleh.

Menurutnya, Tolögu memiliki nilai budaya yang sangat penting karena tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional, tetapi juga mengandung nilai ideologis, sosial, identitas, hingga nilai magis yang diwariskan secara turun-temurun. Ia mengibaratkan posisi Tolögu dalam budaya Nias serupa dengan keris di Pulau Jawa yang memiliki nilai sakral dan menjadi simbol identitas masyarakat.

Selain nilai budayanya yang tinggi, Wibi menilai jumlah pengrajin Tolögu yang masih aktif semakin berkurang. Kondisi tersebut mendorong dirinya untuk mendokumentasikan seluruh proses pembuatan Tolögu sebelum pengetahuan dan keterampilan tersebut hilang.

"Untuk penelitian ini, kita melibatkan enam pengrajin dari tiga desa, yakni Desa Hilisimaetano, Desa Bawomataluo, dan Desa Lahusa Fau, dalam prosesnya, bagian rago atau bilah utama dikerjakan oleh pengrajin di desa Hilisimaetano yang dikenal memiliki keahlian tinggi, sementara cincin atau bilah besi dibuat oleh pandai besi di desa Lahusa Fau, sedangkan pegangan dan sarung Tolögu dikerjakan oleh pengrajin ukir di Desa Bawomataluo yang sejak dahulu dikenal sebagai pusat pengukir pedang terbaik di Nias Selatan," ujar Wibi, Sabtu 30 Mei 2026.

Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan melalui Pameran Dokumentasi Pembuatan Tolögu yang digelar di Gallery Sanora Toano atau Gallery Ama Sufi. Wibi menyampaikan apresiasi kepada Ama Sufi yang telah memberikan izin sekaligus dukungan penuh terhadap pelaksanaan pameran. Menurutnya, Ama Sufi merupakan salah satu pengrajin berpengalaman dalam pembuatan pegangan dan sarung Tolögu yang memiliki komitmen menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Dalam pameran tersebut, pengunjung dapat melihat dokumentasi lengkap proses pembuatan Tolögu, mulai dari bahan mentah, bagian-bagian yang telah selesai maupun yang masih dalam tahap pengerjaan hingga siap dirakit. Selain itu, dipamerkan pula koleksi dokumentasi benda-benda pusaka Nias yang berada di Italia hasil penelitian sebelumnya, video singkat proses pembuatan Tolögu, serta foto-foto kegiatan para pengrajin selama proses produksi berlangsung.

Untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya daerah, panitia juga menghadirkan Kids Corner yang mengajak anak-anak menggambar dan mewarnai Tolögu. Melalui kegiatan tersebut diharapkan anak-anak Nias semakin mengenal, menghargai, dan memiliki rasa bangga terhadap Tolögu sebagai salah satu warisan budaya leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang. Suksesnya pelaksanaan pameran tersebut tidak terlepas dari dukungan tim diantaranya,

Jessica Rossi, Virdolin Manaö (patner lokal Gamagu) dan Nitrasari Fau (tur gaet desa Bawomataluo)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....