Psikolog Ingatkan Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
- 09 Jun 2026 15:04 WIB
- Nias Selatan
RRI.CO.ID, Nias Selatan – Perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat juga diingatkan untuk lebih memperhatikan kesehatan mental agar mampu menyikapi berbagai informasi yang diterima dari dunia digital secara bijak.
Founder dan Counselor Rumah Konseling Remaja (RKR) Datatuwu Kota Gunungsitoli, Senikariawati Laiya, M.A., M.Psi., Psikolog, mengatakan kesehatan mental berkaitan erat dengan kondisi psikologis seseorang yang mencakup aspek fisik, kognitif, emosi, sosial, dan spiritual.

"Kesehatan mental itu mengarah kepada kondisi psikis seseorang. Kelima aspek tersebut harus berfungsi dengan baik sehingga seseorang dapat menjalani hidup secara produktif, jangan sampai salah satu aspek terganggu karena akan berdampak pada kesejahteraan individu," ujarnya saat dikonfirmasi RRI Nias Selatan melalui sambungan telepon seluler, Selasa 9 Juni 2026.
Menurut Kak Shen, begitu Ia biasa dipanggil, kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Salah satu faktor eksternal yang saat ini cukup dominan adalah arus informasi melalui media sosial. Jika seseorang tidak memiliki kesiapan dalam menyaring informasi yang diterima, maka kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mentalnya.
Ia menjelaskan media sosial memiliki dampak positif maupun negatif, tergantung pada kemampuan pengguna dalam memilah informasi yang bermanfaat dan menghindari konten yang dapat memicu tekanan psikologis. Karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi digital yang baik agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai isu yang beredar di ruang digital.
Lebih lanjut, Kak Shen mengingatkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai sebagai indikasi gangguan kesehatan mental akibat penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan. Di antaranya munculnya ketergantungan terhadap gawai, fenomena fear of missing out (FOMO), stres, depresi, hingga perubahan perilaku yang terlihat dari berkurangnya aktivitas sosial dan lebih memilih berinteraksi di dunia maya dibandingkan kehidupan nyata.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menggunakan teknologi digital. Menurutnya, anak usia 0 hingga 12 tahun masih berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.
"Bukan berarti anak tidak boleh menggunakan gawai, tetapi harus ada pendampingan, pengawasan, dan batasan yang jelas dari orang tua mengenai apa yang boleh dan tidak boleh diakses," ungkapnya.
Selain itu, Kak Shen mengungkapkan bahwa layanan konseling saat ini dapat diakses secara langsung maupun daring dengan dapat mengunjungi konseling online di Rumah Konseling Remaja Data Tuwu Kota Gunungsitoli. Meski demikian, Ia lebih menyarankan layanan konseling dilakukan secara onsite atau tatap muka karena memungkinkan interaksi yang lebih mendalam antara konselor dan klien. Sementara layanan virtual dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang terkendala jarak dan waktu.
Ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah perkembangan teknologi yang terus berubah. Dengan penggunaan media digital yang bijak dan dukungan lingkungan keluarga yang baik, kesehatan mental dapat tetap terjaga sehingga individu mampu menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan seimbang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....