Kecanduan Media Sosial Bisa Diukur, Ini Enam Indikatornya
- 11 Jun 2026 03:25 WIB
- Nias Selatan
RRI.CO.ID, Nias Selatan - Bagaimana mengukur tingkat kecanduan seseorang terhadap penggunaan media sosial? Caranya dengan mengacu pada teori psikologi Component Model of Addiction yang dikemukakan oleh Griffiths.
Teori ini dipilih karena dinilai mampu menjelaskan berbagai bentuk perilaku yang muncul ketika seseorang mengalami kecanduan terhadap media sosial. Teori inilah yang mendasari sekelompok mahasiswa Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan untuk melakukan penelitian dengan metode kuantitatif dengan format kuesioner tertutup yang melibatkan responden berusia 18 hingga 40 tahun.
"Kelompok ini dipilih karena merupakan pengguna aktif media sosial yang telah mengenal dan menggunakan berbagai platform digital dalam kehidupan sehari-hari," kata Elsa Telaumbanua, salah seorang mahasiswi dari kelompok tersebut, Rabu 10 Juni 2026.
Teori Component Model of Addiction menjelaskan bahwa kecanduan ditandai oleh enam ciri atau indikator yang dapat diamati melalui pikiran, perasaan, dan tindakan seseorang.
Mahasiswi asal Nias Selatan ini menerangkan, menurut teori Griffiths, kecanduan tidak hanya terjadi pada zat tertentu tetapi juga dapat muncul dalam bentuk perilaku termasuk penggunaan media sosial. Adapun ciri pertama adalah salience yaitu kondisi ketika media sosial menjadi pusat perhatian dan mendominasi pikiran individu.
Ciri kedua adalah tolerance, yang ditandai dengan meningkatnya kebutuhan untuk menghabiskan waktu lebih lama di media sosial agar memperoleh kepuasan yang sama. Sementara itu, ciri ketiga yaitu mood modification, yang menggambarkan penggunaan media sosial sebagai sarana untuk mengubah suasana hati, seperti mengurangi stres, mengatasi kebosanan, atau mencari hiburan.
Ciri berikutnya adalah relapse, yaitu kegagalan berulang dalam upaya mengurangi penggunaan media sosial meskipun individu telah memiliki niat untuk membatasinya. Ada juga withdrawal, yang merujuk pada munculnya perasaan gelisah, cemas atau tidak nyaman ketika seseorang tidak dapat mengakses media sosial dalam jangka waktu tertentu.
Dan ciri terakhir adalah conflict, yaitu munculnya berbagai konflik akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, baik konflik dengan diri sendiri, lingkungan sosial, maupun tanggung jawab sehari-hari. "Kasihan kan kalau gara-gara media sosial, tugas atau pekerjaan kita menjadi terbengkalai atau malah bisa menimbulkan masalah pada orang-orang sekitar," ungkap Elsa.
Ia berharap data yang diperoleh dari penelitian tersebut memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi. Sehingga dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....