Uniknya Rago, Aksesoris Tolögu, Pedang Khas Nias Selatan
- 21 Jun 2026 02:51 WIB
- Nias Selatan
Uniknya pembuatan Rago
RRI.CO.ID, Nias Selatan - Menjadi seorang pengrajin Rago atau aksesoris khusus Tolögu (pedang khas Nias Selatan) sudah dilakoni Yasarohalöwö Dachi (70) sejak usia muda. Warga desa Hilisimaetanö, Kecamatan Luahagundre Maniamölö, Kabupaten Nias Selatan ini memiliki kecintaan yang tinggi terhadap senjata tradisional tersebut.
Rago adalah aksesoris yang disematkan pada sarung Tolögu. Rago berbahan dasar rotan yang dianyam hingga membentuk bulatan.
Pada anyaman ini nantinya akan direkatkan taring hewan seperti babi hutan maupun buaya. Taring hewan ini lalu disambung dengan tali pancing hingga menutupi anyaman.
“Kalau zaman dulu tidak pakai taring hewan, hanya Rago saja. Untuk satu Rago saja dulunya saya pernah ditawar seharga Rp1,5 juta,” tutur Yasaro saat ditemui di kediamannya, Rabu, 17 Juni 2026.
Uniknya, untuk bisa membuat Rago, Yasaro belajar secara otodidak. Tidak ada tempat untuk belajar walaupun kala itu ada pengrajin yang melakoni kegiatan serupa.
Ia mengungkapkan, Rago buatannya tidak hanya dicari warga desa setempat. Rago buatannya juga dicari oleh peminat dari desa lainnya seperti Desa Bawomataluo dan Lahusa Fau.
“Jadinya saya sangat senang buat Rago. Sudah banyak orang yang saya ajarkan karena pengalaman saya dulu tidak diajari siapa-siapa,” ujarnya.
Untuk membuat sebuah Rago, Yasaro membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Dengan catatan seluruh bahan sudah tersedia sehingga ia tinggal langsung mengerjakan.
Di masa lampau, sebuah Tolögu sebenarnya tidak disematkan Rago. Menurut Yasaro, Rago digunakan sebagai sebagai pengganti kepala manusia.
“Kalau di masa perang jaman dulu, di Tolögu tidak ada Rago. Karena fungsinya sebagai senjata,” ungkapnya.
Membuat Rago tidak sama seperti membuat aksesoris lainnya yang bisa sembarang saja dibentuk. Rago harus menyesuaikan dengan besar kecilnya sebuah Tolögu.

Harga Rago juga ditentukan oleh tingginya kreativitas seorang pengrajin dalam membuat Rago. Seperti pemilihan jenis taring hewan yang digunakan ataupun menyisipkan aksesoris tambahan lainnya.
Seorang Peneliti sekaligus Dosen Undiksa, Bali, Ahmad Ginanjar Purnawibawa terlibat dalam sebuah proyek dokumentasi pembuatan Tolögu pada Mei 2026 lalu. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa Rago termasuk sebagai salah satu aksesoris pembeda Tolögu dengan parang biasa yang dipakai sehari-hari.
Pembuatan Rago juga membutuhkan dua jenis rotan, satu untuk membuat anyaman utama dan jenis lainnya untuk menutup atau mengunci anyaman. Selain itu, ada teknik tertentu yang digunakan dalam menentukan seberapa besar ukuran Rago yang diinginkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....