Asa dari Sudut Negeri untuk Infrastruktur Memadai

  • 19 Mar 2026 15:12 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO.ID, Nias Selatan - Siapa yang kenal dengan Yamisa Zebua? Ia adalah siswi Kelas 12 di SMK Negeri 1 Boronadu, Kecamatan Boronadu, Kabupaten Nias Selatan.

Namanya mungkin kurang terdengar akrab di telinga. Tetapi berkat kepolosannya, ia berhasil membawa perubahan besar tidak hanya bagi sekolahnya namun juga bagi warga di desanya.

Tidak tanggung-tanggung, Wapres Gibran langsung berkunjung ke sekolahnya pada akhir Desember 2025 dengan menaiki sepeda motor trail. Hasilnya, sebuah jembatan Bailey sepanjang 33 meter kini terbangun diatas Sungai Gomo yang terletak di Desa Sifalago Gomo, Kecamatan Boronadu sesuai permintaannya.

Bonusnya, ia bisa berbincang langsung dengan Presiden Prabowo melalui vidcom satu hari sebelum peresmian jembatan. Presiden bahkan menjanjikan akan memfasilitasi Yamisa dan dua temannya agar bisa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.

Bermula dari medsos

Mengenyam pendidikan bagi Yamisa dan anak-anak lain di desanya ibarat investasi berharga yang harus terus dijaga. Mereka rela menempuh perjalanan yang melelahkan bahkan mengancam nyawa agar setiap hari bisa sampai ke sekolah.

"Cuma sekolah ini yang terdekat," kata Yamisa, Selasa 10 Maret 2026, sesaat sebelum peresmian jembatan yang dibangun tepat dilokasi ia dan teman-temannya pertama kali mencurahkan keluh kesahnya di video yang akhirnya menjadi viral. "Sekolah lain jaraknya lebih jauh, sekitar lima kilometer."

Berjalan kaki ke sekolah bukan menjadi rintangan satu-satunya bagi mereka. Menyeberangi Sungai Gomo yang selalu meluap setiap hujan deras juga merupakan hal yang paling mengkhawatirkan setiap hendak berangkat maupun pulang dari sekolah.

Akses jalan yang tidak memadai hingga minim sentuhan pembangunan menjadi pemicu mereka untuk menyampaikan harapannya. Meski dengan sarana terbatas, media sosial menjadi harapan satu-satunya untuk memberitahukan kondisi real yang mereka alami.

"Sore itu kami baru pulang dari sekolah dan tidak bisa menyeberang karena sungainya meluap," ujar Yamisa. "Waktu itu, guru kami sedang live Tik Tok, jadi spontan saya bicara menggambarkan situasi yang kami alami."

Yamisa Zebua (kiri) berfoto bersama Bupati Nias Selatan, Sokhiatulo Laia, sesaat sebelum peresmian jembatan Bailey di Desa Sifalago Gomo, Kecamatan Boronadu, 10 Maret 2026. (Foto: RRI/Anoverlis)

Yamisa menuturkan bila dirinya tidak pernah menyangka video permintaannya itu akan viral seperti ini. Saat itu yang terlintas dalam pikirannya hanya ingin meluapkan rasa lelah dan kecewa karena tidak bisa menyeberangi sungai yang sedang banjir.

Curhatan Yamisa ini kemudian menarik perhatian media nasional. Pemberitaan tersebut akhirnya menggugah Pemerintah hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turun ke Desa Sifalago Gomo untuk melihat kondisinya secara langsung.

"Nggak nyangka bisa se-viral itu," ungkapnya sambil tersenyum sumringah. "Terimakasih untuk Pak Presiden Prabowo, Pak Wapres Gibran, Pak KASAD TNI dan Bapak-bapak TNI lainnya yang sudah berjerih lelah membangun jembatan kami."

Butuh Pembangunan Infrastruktur yang Memadai

Tak perlu jembatan megah dan mewah, bagi Yamisa, anak-anak dan warga desa sekitar, jembatan Bailey ini telah menjadi jawaban akan keluh kesah mereka. Setidaknya mereka sudah bisa ke sekolah tanpa perlu khawatir basah-basahan atau terjebak banjir.

Warga juga merasakan hal yang sama. Tidak hanya soal akses yang lebih memadai, perekonomian juga bisa bergerak dengan lebih baik.

Jembatan Bailey ini adalah jembatan pertama yang dibangun oleh TNI AD di Kabupaten Nias Selatan. Dengan anggaran daerah yang terbatas serta kondisi geografis yang cukup luas, tentu masih banyak warga yang membutuhkan pembangunan jembatan.

"Harapannya satu jembatan lagi dibangun di Desa Balohili Gomo," kata Camat Boronadu, Pengalaman Hia kepada RRI beberapa waktu lalu. Kala itu, TNI AD baru akan memulai pengerjaan pembangunan jembatan Bailey tersebut.

Namun tak hanya jembatan, Camat Boronadu mengungkapkan, pembangunan infrastruktur jalan juga menjadi harapan besar warganya. Ia berharap, janji Wapres untuk memperbaiki akses di wilayah tersebut juga direalisasikan seperti harapan Yamisa.

"Harapan kami, pembangunan jalan dari Kecamatan Gomo menuju Kecamatan Boronadu juga segera dilaksanakan," ujarnya. Kondisi jalan yang rusak tidak hanya menyulitkan warga yang melintas tetapi juga menambah waktu perjalanan.

Dengan konstruksi tanah yang berbukit dan berkelok akan sangat beresiko bagi warga yang melintas. Beberapa titik di sepanjang jalan juga rawan longsor dan licin saat cuaca ekstrim, semakin menambah kekhawatiran saat melintasi kawasan tersebut.

Kondisi jalan Gomo-Boronadu yang sempit, berbukit, berkelok dan licin saat musim hujan dapat membahayakan pengendara yang melintas. Rombongan Bupati Nias Selatan harus berhenti sejenak akibat adanya kendaraan roda empat yang selip. (Foto: RRI/Anoverlis)

Terbatasnya Anggaran Daerah

Terlepas dari cerita keberhasilan Yamisa menggunakan media sosial untuk menyampaikan aspirasinya, ada juga sarana lainnya yakni Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Meski diakui, tidak semua usulan yang disampaikan dapat diakomodir oleh Pemerintah karena keterbatasan APBD.

Tahun ini saja, pembangunan infrastruktur jalan masih mendominasi usulan prioritas di setiap Musrenbang Kecamatan. Salah satunya pembangunan jalan di wilayah Kecamatan Ulususua.

Pada pelaksanaan Musrenbang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 pada 13 Maret 2026, Kasi Kesejahteraan Sosial Kantor Camat Ulususua, Arman Linus Halawa juga mengemukakan hal yang sama. Akses jalan yang memadai, menjadi salah satu kerinduan bagi warga di wilayah tersebut.

Bukan saja menghambat aktivitas warga, namun lebih dari itu, jalan yang memprihatinkan menyebabkan distribusi MBG menjadi terkendala. Iapun berharap Pemerintah punya solusi agar anak-anak di wilayah tersebut mendapatkan hak yang sama.

"Memang sudah ada yang mau jadi investor tetapi masih berproses," ungkapnya pada kesempatan tersebut. "Tetapi tidak semua sekolah bisa ditampung karena beberapa kondisi jalan yang ekstrim."

Keterbatasan keuangan daerah untuk melakukan pembangunan infrastruktur juga diamini oleh Tokoh Masyarakat Nias Selatan, Sidi Adil Harita. Pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Nias Selatan periode 2009-2014 membuatnya paham akan kondisi ini.

Ia pun mengusulkan agar kondisi ini diatasi dengan cara berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pusat melalui Kementerian terkait. Meski cara ini juga belum tentu memberikan hasil yang maksimal mengingat masih banyak daerah lainnya di Indonesia yang juga membutuhkan perhatian yang sama.

Pembangunan jembatan Masio di Desa Hilizomboi Kecamatan Lahusa juga merupakan akses yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Jembatan yang dibangun diatas sungai Masio ini adalah akses penghubung Kecamatan Lahusa dan Kecamatan Susua yang dikenal memiliki arus yang sangat deras dan berisiko tinggi untuk dilewati terutama saat cuaca buruk. (Foto: RRI/Anoverlis)

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Selatan, Ikhtiar Duha. Ia mengemukakan bahwa Pemkab Nias Selatan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan berharap membuahkan hasil yang positif.

Di China ada ungkapan yang berbunyi "Untuk menjadi makmur, bangunlah jalan terlebih dahulu,". Pentingnya pembangunan infrastruktur menjadi kunci pengentasan kemiskinan.

Bagaimana mau mengangkut hasil pertanian bila akses tidak ada? Atau bagaimana membangun Pariwisata Nias Selatan jika aksesnya juga terbatas?

Infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan adalah hal utama yang harus dituntaskan ketika berbicara tentang pembangunan masyarakat. Infrastruktur ini penting untuk bisa menggerakkan aktivitas warga.

Dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur, mudah-mudahan Kabupaten Nias Selatan bisa mengejar ketertinggalannya. Walaupun pembangunannya tidak bisa dilakukan dalam sekejap, tetapi dengan kolaborasi yang baik akan mendorong pembangunan secara bertahap demi mencapai Nias Selatan adalah Rumah Kita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....