Aktivitas Pandai Besi Masih Eksis di Hiliganowo
- 16 Okt 2025 20:35 WIB
- Nias Selatan
KBRN, Nias Selatan: Pandai besi atau dalam bahasa Nias disebut 'Sihambu' adalah mata pencaharian yang masih ditemukan di desa Hiliganowo Kecamatan Teluk Dalam, Nias Selatan. Tempat mereka beraktivitas dengan mudah dapat dijumpai di pinggir jalan nasional menuju ibukota Kabupaten Nias Selatan.
Gubuk-gubuk berukuran sekitar 2x2 meter ini berdiri tepat di tepi pantai. Ruang tersebut menjadi tempat mereka bekerja sepanjang hari dari pukul 08.00-18.00 WIB.
Suara ketukan palu yang beradu dengan besi menjadi ciri khas yang selalu terdengar jika melewati kawasan ini. Belum lagi dengan penampakan bara api saat besi-besi itu dibakar disuhu diatas 1000 derajat Celsius, menambah pesona pekerjaan yang satu ini.
Wajar jika aktivitas ini selalu mengundang rasa ingin tau dari warga lokal maupun pendatang yang melintas di lokasi tersebut. Para pandai besi ini pun dengan ramah meladeni setiap pertanyaan yang dilontarkan kepada mereka.
"Ada parang, mata cangkul dan mata kapak," kata Aluizokho Gowasa, salah seorang pandai besi yang ditanyai RRI, Kamis (16/10/2025). Pria yang akrab dipanggil Ama Justina ini sudah terbiasa menghadapi percikan besi panas yang sesekali mengenai tubuhnya.

Ama Justina Gowasa. (Foto: RRI/Anoverlis)
Ia sudah menjadi pandai besi sekitar 31 tahun. Pekerjaan ini merupakan turun temurun dari keluarga dan menjadi mata pencaharian utama baginya.
Modal utamanya adalah besi dari per mobil bekas yang dibeli dari kota Gunungsitoli seharga Rp10.000 per kilogram. Kemudian arang kayu dan pompa angin buatan sendiri.
"Kalau buatan pabrik, panas besinya tidak kelihatan saat disepuh," tuturnya saat ditanya tentang pompa angin berbentuk kotak segi panjang yang terbuat dari kayu tersebut. Hebatnya lagi, mereka bekerja tanpa memakai alat pelindung walau berada dekat dengan suhu panas dari bara api dan percikan besi panas.

Ama Justina biasanya dibantu oleh keponakannya. (Foto: RRI/Anoverlis)
Satu parang besi dijual seharga Rp60.000. Biasanya hasil buatan ini akan dijual di pasar mingguan (Pekan).
Ia juga menawarkan jasa perbaikan parang, baik disepuh maupun ditajamkan. Biayanya sekitar Rp30.000 per item.
"Biasanya dipesan dulu baru kita buat (parang dan alat pertanian lainnya)," katanya. "Ada juga yang sudah dibuat tapi biasanya harus diasah atau disepuh dulu baru bisa dijual."
Ama Justina mengungkapkan menjadi pandai besi merupakan satu-satunya pekerjaan yang ia tekuni. Selain hari Minggu, jika sedang sakit atau ada acara keluarga tentu ia tidak bisa bekerja.
Selain itu, jika bahan baku tidak tersedia, ini juga bisa menjadi kendala bagi mereka dalam bekerja. Rata-rata mereka harus membeli 200 kilogram per mobil bekas agar bisa terus bekerja.

Menempa besi sudah menjadi keseharian Ama Justina. (Foto: RRI/Anoverlis)
Kendala yang dihadapi oleh para pandai besi ini juga pernah diungkapkan Kepala Desa Hiliganowo, Yofiyanus Duha. Tidak hanya sebagai mata pencaharian, namun pandai besi tradisional merupakan keahlian khusus yang hanya bisa dijumpai di desa tersebut.
"Desa ini sebagai satu-satunya yang masih mempertahankan pandai besi sebagai mata pencaharian," ungkapnya. "Jumlahnya masih banyak di desa ini."
Agar mata pencaharian ini dapat dipertahankan, Yofiyanus menyampaikan harapan besar kepada pemerintah daerah Kabupaten Nias Selatan. Yakni dengan memberi bantuan berupa pengadaan peralatan dan penyediaan bahan baku.