YAPELBANIS Lestarikan Li Niha Raya Melalui Penerjemahan Kitab Injil

  • 05 Jun 2026 19:33 WIB
  •  Nias Selatan

RRI.CO.ID, Nias Selatan - Pelestarian Bahasa Nias Selatan atau Li Niha Raya terus menjadi perhatian berbagai kalangan, terutama di tengah kekhawatiran akan semakin berkurangnya jumlah penuturnya. Salah satu upaya nyata yang dilakukan adalah penerjemahan kitab-kitab Injil dalam Alkitab ke dalam Bahasa Nias Selatan yang diprakarsai oleh Yayasan Pelestarian Bahasa Nias Selatan (YAPELBANIS).

Bambowo Laiya selaku Founder YAPELBANIS memperkenalkan hasil terjemahan empat kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dalam Bahasa Nias Selatan dalam Konferensi Internasional Bahasa dan Budaya Nias, Jumat, 5 Juni 2026. Pada Konferensi yang digelar Universitas Nias Raya (UNIRAYA) Nias Selatan tersebut, Bambowo Laia mengungkapkan bahwa terjemahan ini merupakan hasil kerja panjang yang telah dikerjakan selama bertahun-tahun melalui proses penelitian, penyusunan, dan penyempurnaan bahasa.

“Kalau ada yang merasa tertarik nanti kami akan kasih cuma-cuma. Dengan harapan harus memberi masukan setelah dibaca dan dikembalikan kepada kami agar dilakukan perbaikan-perbaikan dalam menyempurnakan hasil terjemahannya,” kata Bambowo Laiya.

Menurut Bambowo Laiya, penerjemahan Injil tidak hanya bertujuan menyediakan bahan bacaan rohani bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan Bahasa Nias Selatan. Kehadiran teks-teks keagamaan dalam bahasa daerah dinilai dapat meningkatkan penggunaan bahasa tersebut di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa jumlah penutur Li Niha Raya terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang memiliki jumlah penutur sangat terbatas berisiko mengalami kepunahan apabila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tadi dikatakan bahwa menurut penelitian UNESCO, jika sebuah bahasa memiliki jumlah penuturnya kurang dari 100 ribu penutur maka bahasa itu akan punah. Begitu juga dengan Bahasa Nias Selatan ini yang penuturnya sudah kurang dari 100 ribu penutur sehingga termasuk sebagai bahasa yang terancam punah.”ujar,Bambowo.

Bambowo Laiya berharap hasil penerjemahan Injil Alkitab ini menjadi langkah awal yang dapat menggerakkan masyarakat untuk semakin mencintai dan menggunakan Bahasa Nias Selatan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan bahasa daerah agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....