Ini Kendala Pelaksanaan Program Ketahanan Pangan Kecamatan O'ou
- 22 Okt 2025 17:45 WIB
- Nias Selatan
KBRN, Nias Selatan: Program ketahanan pangan yang telah dijalankan Kecamatan Oou Kabupaten Nias Selatan sejak pertengahan tahun 2025 lalu menghadapi beberapa kendala. Hal ini menyebabkan pelaksanaan program tersebut belum berjalan secara maksimal.
Salah satu kendala utama yang dihadapi, menurut Camat Oou, Ricaman Halawa, adalah Dana Desa tahap kedua yang sampai saat belum dicairkan. Akibatnya pembelian pupuk maupun obat-obatan pertanian yang diperlukan termasuk gaji para pekerja belum dapat dibayarkan.
”Ini selalu saya tanya di Dinas terkait tapi ada kendala di aplikasi katanya yang masih belum selesai,” ungkap Camat Oou, Selasa (21/10/2025). Kendala berikutnya adalah SDM pengelola kegiatan atau TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) Desa yang terpilih tidak memiliki pengalaman atau memiliki latar belakang di bidang pertanian.
Padahal, menurutnya latar belakang ilmu pertanian sangat diperlukan oleh TPK agar bisa mengerjakan program tersebut dengan maksimal. Sehingga ia berharap ada pelatihan khusus yang diberikan agar para TPK ini dapat mengetahui dan memahami cara budidaya tanaman yang ditanam di setiap program ketahanan pangan yang dilaksanakan.
Kendala lain yang dihadapi, lanjut Ricaman, adalah kurangnya keseriusan masyarakat dalam menjalankan program tersebut. Bahkan program ini dijadikan sebagai kesempatan untuk mendapatkan penghasilan sehingga anggaran yang digelontorkan sebagian besar terserap untuk menggaji para pekerja.
Begitu juga dalam pembukaan lahan baru, kata Camat O’ou, warga sedikit kesulitan untuk mengolah lahan meskipun sudah menggunakan mesin. Menurutnya, di lahan pertanian wajib dibuat bedengan sehingga kayu-kayu atau akar tanaman harus disingkirkan untuk mempermudah pembuatan bedengan tersebut.
“Mungkin nanti kalau mereka meneruskan sudah saya tekankan juga ke mereka, ini setiap desa ini wajib minimal tiga kali harus menanam,” saran Ricaman. “Setelah panen ini, tanam lagi, kalau sekarang jagung seterusnya tanam cabe atau sayur-sayuran jangan terus menerus menanam jenis yang saya karena itu memutus siklus hama.”
Dengan wajib tiga kali menanam, katanya, desa diperkirakan bisa balik modal dari anggaran 20 persen Dana Desa yang dipakai untuk program tersebut. Namun jika hanya melakukan sekali penanaman, tentu belum bisa balik modal karena begitu banyaknya pekerjaan berat yang dilakukan desa.
Sedangkan kendala terakhir yang dihadapi dalam melaksanakan program ketahanan pangan di kecamatan Oou adalah cuaca. Seperti yang dialami petani jagung di desa Bawosaloo Bawoluo sebelumnya, dimana tanaman jagung roboh akibat angin kencang.
Selain membutuhkan tenaga kerja untuk memperbaiki kerusakan, juga memerlukan biaya yang cukup besar. Sebab disekitar tanaman harus dipasang tali dan kayu untuk menopang tanaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....