Mudik Nataru Jalur Laut, ‘Mati Gaya’ tanpa Internet
- 19 Des 2023 18:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Makassar: DI era sekarang internet sudah menjadi kebutuhan pokok. Membeli kuota internet merupakan salah satu pengeluaran yang tidak bisa ditunda.
Namun apa jadinya jika kita yang sudah terbiasa dengan jaringan internet, tiba-tiba tidak memiliki akses tersebut? Tim Ekspedisi RRI Nataru 2023 merasakan pengalaman itu saat memakai jalur laut atau naik kapal motor (KM).
Menumpang KM Sinabung dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Senin (18/12/2023), pukul 12.15 WIB, perjalanan tiba di Makassar sebagai pemberhentian pertama pada Selasa pukul 17.00 Wita. Nyaris lebih dari 28 jam perjalanan jaringan internet tidak ada sama sekali.
Sama seperti penumpang lainnya, kontak dengan darat hanya bisa dilakukan dengan sambungan telepon biasa atau seluler. Tidak ada WhatsApp, googling, atau aktivitas yang melibatkan perangkat elektronik yang terkoneksi dengan internet.

Alhasil penumpang termasuk kru kapal ‘mati gaya’ tanpa internet. Hanya ada satu pilihan: menikmatinya.
Geladak kapal menjadi tempat paling ramai dari jelang siang hingga petang. Bahkan di malam hari terhitung masih ramai.
Ada yang sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan laut. Ada yang mengobrol dengan teman atau kenalan baru, sambil tetap memainkan hape berharap muncul sinyal internet.

Ada pula yang bermain kartu hingga minum kopi yang dibeli di mini market atau pengasong resmi. Tampak juga beberapa anggota Jamaah Tabligh penumpang kapal yang mencari orang untuk diberi dakwah.
“Dari tadi duduk-duduk saja, lihat laut. Mau bagaimana lagi, ya begini kalau perjalanan pakai kapal laut,” kata Daniel, pemuda dari Sorong yang baru menyelesaikan studi S1 di Malang.
Aktivitas tidak jauh berbeda dilakukan Trianto, penumpang dari Kediri. Ia naik KM Sinabung dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Makassar.
“Saya sudah biasa naik kapal laut. Memang ya enggak ada internet, mau pakai WA juga susah,” kata Anto, panggilan akrabnya.
“Saya ambil kelas ekonomi di kapal karena murah, hanya Rp300-an. Kalau bosen di dek, paling naik ke geladak jalan-jalan,” ujar Anto.

Nakhkoda KM Sinabung, Captain Romi Supriadi, mengatakan soal internet memang belum tersedia di dalam kapal. Sebetulnya ada tetapi terbatas untuk awak kapal, itupun tidak semua mendapatkannya.
“Soal internet memang terbatas dan kadang kalau sudah lepas dari pelabuhan sinyal tidak ada lagi. Sinyal biasanya muncul lagi sekitar satu jam sebelum bersandar di pelabuhan,” ujar Captain Romi.
Namun untuk kepentingan navigasi kapal dan lain-lain, Captain Romi menjelaskan ada sambungan internet yang disediakan Pelni. Termasuk buat kru kapal dengan posisi yang vital, misal kapten kapal hingga dokter kapal.
“Jadi tidak semua Anak Buah Kapal (ABK) juga dapat sambungan internet nirkabel. Tapi percayalah naik kapal tanpa internet tetap asyik, karena banyak hiburan di sini,” ujar Captain Romi.

Ada atau tidak ada internet, perjalanan memakai kapal memang tetap mengasyikkan. Selain ada hiburan live music, juga ada bioskop, hingga persewaan PlayStation.
Namun ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan penumpang, untuk bisa menikmati ragam hiburan yang ada. Jadi, buat Anda yang belum pernah naik kapal, sesekali boleh mencoba moda transportasi ini supaya bisa merasakan bagaimana hidup tanpa internet.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....