Khotbah Natal UNIRAYA; Pencobaan Atau Ujian? Ini Bedanya
- 20 Des 2025 15:07 WIB
- Nias Selatan
KBRN, Nias Selatan: Seringkali kita mendengar istilah pencobaan yang diartikan sebagai ujian. Atau sebaliknya, saat seseorang menghadapi ujian hidup, ia menyebutnya sebagai pencobaan.
Dalam khotbahnya pada perayaan Natal Universitas Nias Raya (UNIRAYA) Nias Selatan, Jumat (19/12/2025), Pdt. Mudahari Zai, S.Th menerangkan bahwa kedua istilah ini sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Menurut dia, ada tiga hal yang dapat membantu kita untuk memahami perbedaan antara pencobaan dan ujian.
Pertama, sumbernya berbeda. Pencobaan berasal dari si jahat, sedangkan ujian itu sumbernya dari Tuhan.
Pencobaan, lanjutnya, bukanlah dari Tuhan seperti dikatakan dalam Yakobus 1:13b 'Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Sementara ujian, yang sumbernya dari Tuhan, pada intinya ada hal yang dipersiapkan yang lebih baik sebelum kita menjalaninya.
"Kedua, ujian dan pencobaan sifatnya berbeda," kata Pdt. Mudahari. "Ujian sifatnya baik dan membawa kita di tahap berikutnya yang lebih baik tetapi pencobaan itu tujuannya jahat untuk menjatuhkan bahkan membuat kita terpuruk pada endingnya."
Sedangkan hal ketiga yang membedakan antara ujian dan pencobaan terletak pada tujuan akhirnya. Ujian bertujuan melengkapi kita lebih baik, meneguhkan kita supaya lebih kuat dan lebih memahami makna apa saja yang harus ditingkatkan dalam kehidupan.
"Ujian bertujuan memurnikan, membuat kita bisa berbenah, membuat kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita hadapi untuk kebaikan kita dan pada akhirnya ujian itu membuat kita bertumbuh, berkembang di dalam Yesus Kristus," ujarnya. "Sementara pencobaan bertujuan merusak diri kita, menggoda kita, membuat kita jatuh bahkan terpuruk dari keadaan kita yang baik-baik saja."
Lalu, sesuai dengan tema Natal UNIRAYA 'Berbahagialah Orang yang Bertahan dalam Pencobaan', mengapa seseorang dikatakan berbahagia dalam pencobaan? Karena orang yang berada di dalam Tuhan tahu bertindak, tahu mana yang benar, tahu berbuat mana yang berkenan di hadapan Tuhan sehingga dia mampu menghadapinya.
"Sehingga lewat Surat Yakobus ini ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar bertahan ketika menghadapi pencobaan," ujar Pdt. Mudahari. "Endingnya adalah kita yang berbahagia, orang-orang di sekitar kita juga bahagia."
Pertama, menghadapi segala sesuatu dengan sukacita (ayat 2). Hal ini penting karena respon ketika terhadap sesuatu berpengaruh terhadap cara kita menyelesaikan masalah.
"Misalnya seperti bencana, kita anggap sebagai ancaman atau sebagai kesempatan," katanya. "Kalau ancaman tentu kita ragu-ragu, takut, tertutup mata hati kita untuk melakukan tindakan yang baik, tapi kalau kita respon dengan baik yakni menjadikannya sebagai kesempatan untuk berbuat baik maka beda rasanya."
Kedua, pada ayat 5-8, dan juga pasal 3:17-18, cara untuk bisa bertahan dalam pencobaan adalah mengadapinya dengan hikmat yang dari Tuhan. Hikmat yang dimaksud adalah Yesus yang telah datang kedunia dan menghantarkan orang percaya kepada kehidupan yang kekal.
Sementara cara ketiga (ayat 12) yakni terus hidup dalam kebenaran agar mencapai tujuan meraih mahkota kehidupan. Meski godaan si jahat terus ada, maka untuk bisa bertahan dalam pencobaan adalah bertahan dalam kebenaran karena ada mahkota yang disiapkan untuk orang percaya, ada keselamatan bahkan kehidupan di dunia ini diberkati oleh Tuhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....