Menteri ESDM Apresiasi Kesiapan Pasokan Listrik Selama Nataru

  • 23 Des 2024 22:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Cilegon: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengapresiasi kesiapan PLN dalam menjaga pasokan listrik selama periode Nataru. Hal ini diungkapkannya saat melakukan kunjungan langsung ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Cilegon, Sabtu (21/12/2024).

"Kami berkunjung ke Suralaya, Cilegon untuk memastikan pembangkit listrik yang ada di Suralaya. Seperti diketahui bersama, di sini kapasitasnya 3.400 Megawatt (MW) dan semua berjalan dengan baik,” ujar Bahlil.

"Saya sudah cek, kalau cuaca buruk itu kan ada 2 variabelnya, pertama transportasi bahan bakar dan ini kan kita punya Hari Operasi (HOP) hingga 23 hari, jadi insaallah itu clear. Yang kedua adalah cuaca itu sendiri jangan sampai menggangu jaringan, yang menjadi potensi bencana itu sudah dimitigasi. Jadi apa yang dikhawatirkan, insaallah tim dari PLN dan Kementerian ESDM sudah memitigasi dengan baik," katanya.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan PLN berkomitmen menjaga keandalan pasokan listrik selama Nataru. Ini diwujudkan dengan memastikan sistem kelistrikan PLN dari hulu hingga hilir dalam kondisi normal dengan cadangan daya cukup.

“Kami pastikan pasokan daya sistem kelistrikan PLN dalam kondisi normal dan andal, kami juga menyiagakan puluhan ribu personel dengan peralatan lengkap agar masyarakat dapat merayakan ibadah Natal dan libur Nataru dengan nyaman,” ujar Darmawan dalam keterangannya, Senin (23/12/2024).

PLTU Suralaya merupakan tulang punggung kelistrikan wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali). PLTU ini menyumbang 10 persen kebutuhan listrik di wilayah tersebut dengan daya mampu netto sebesar 3.221,6 MW.

Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra menyatakan pihaknya mengerahkan 484 personel siaga. Mereka dibekali dengan peralatan lengkap untuk menjaga keandalan operasi PLTU Suralaya.

Selain itu, PLTU Suralaya juga telah menerapkan program co-firing sejak tahun 2021. Ini merupakan penggabungan bahan bakar fosil dengan biomassa untuk mengurangi emisi karbon.

Hingga November 2024, total produksi listrik dari co-firing mencapai 538 Giga Watt Hour (GWh). Pencapaian energi hijaunya adalah sebesar 175,93 GWh pada tahun 2024.

Program ini mendukung akselerasi transisi energi hijau di Indonesia. Ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi karbon di sektor energi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....