Kemenag Luncurkan Tanam Sejuta Pohon Matoa

  • 25 Apr 2025 15:07 WIB
  •  Bengkalis

KBRN, Bengkalis: Dalam rangka mendukung pelestarian lingkungan dan memperkuat kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama, Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan program Ekoteologi dan Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa, yang merupakan bagian dari Asta Program Prioritas Menteri Agama Tahun 2025-2029.

Peluncuran program ini dilangsungkan pada 22 April 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi ke-55, dan akan dilaksanakan secara nasional selama satu tahun penuh.

Ketua STAIN Bengkalis Abu Anwar dalam momen tersebut mengatakan, program ini menyasar berbagai lokasi strategis seperti rumah ibadah, kantor Kementerian Agama, Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), madrasah, pesantren, asrama haji, dan satuan pendidikan keagamaan lainnya di seluruh Indonesia.

Konsep ekoteologi yang diusung dalam program ini merujuk pada studi dan pendekatan hubungan antara agama dan lingkungan. Melalui ekoteologi, Kementerian Agama ingin menegaskan bahwa pelestarian alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral umat beragama.

“Ekoteologi bukan hanya ilmu, tapi juga panggilan nurani. Ini adalah cara kita memahami alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat,” ujarnya.

Program ini bertujuan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam aksi nyata pelestarian lingkungan, sekaligus membangun partisipasi aktif masyarakat dalam mengatasi krisis iklim.

Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa merupakan implementasi konkret dari program ekoteologi. Pemilihan pohon matoa sendiri bukan tanpa alasan, karena tanaman endemik ini memiliki daya tahan tinggi, manfaat ekologis, serta nilai budaya di beberapa daerah Indonesia.

“Adapun manfaat dari program ini antara lain, Meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat melalui pendekatan berbasis agama. Mengurangi dampak perubahan iklim melalui aksi reboisasi. Meningkatkan kualitas udara dan lingkungan hidup. Mendorong partisipasi aktif umat beragama dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

Kementerian Agama mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk lembaga pendidikan, ormas keagamaan, serta komunitas lokal dalam pelaksanaan gerakan ini. Tidak hanya sebatas penanaman, program ini juga akan disertai edukasi lingkungan, kampanye digital, serta monitoring perkembangan pohon yang ditanam.

“Gerakan ini bukan sekadar menanam pohon. Ini adalah manifestasi tanggung jawab moral dan spiritual kita terhadap bumi yang kita tempati bersama,” ungkapnya.

Melalui program ini, diharapkan masyarakat luas, khususnya komunitas keagamaan, bisa lebih peduli dan aktif dalam merawat lingkungan, menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai kekuatan utama dalam menciptakan bumi yang lestari dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....