Sejarah dan Sandi Kentongan
- 02 Mei 2024 14:06 WIB
- Fak Fak
KBRN, Fakfak : Keberadaan kentongan mungkin terlihat asing terutama bagi kaum milenial perkotaan. Padahal alat komunikasi yang terbuat dari bambu tersebut sudah digunakan sejak zaman kerajaan dulu. Fungsi utama dari kentongan adalah memberikan informasi mengenai situasi di lingkungan sekitar.
Dilansir dari laman Kemdikbud, sejarah kentongan telah ada dalam legenda Laksamana Cheng Ho dari China yang mengembara dengan misi keagamaan pada 1405-1433 M. Diketahui, saat itu Cheng Ho menemukan kentongan sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Lalu, penemuan kentongan tersebut dibawa ke China, Korea, dan Jepang. Adapun di Indonesia, kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah di Nusa Tenggara Barat berkuasa sekitar abad XIX. Ia menggunakannya untuk mengumpulkan massa. Sementara di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.Sejak awal, kentongan merupakan alat pendamping ronda (patroli menjaga keamanan). Kentongan digunakan untuk memberitahukan ketika pencuri atau bencana alam. Di pedesaan, kentongan kemudian berkembang dan digunakan di masjid-masjid kecil sebagai pemanggil masyarakat untuk ke masjid bila jam salat telah tiba.
Ada beberapa sandi kentongan yaitu doro muluk, titir, kentong sepisan, dan sambang. Doro muluk digunakan saat melakukan pemberitahuan mengenai warga yang meninggal dunia. Jika dipukul sampai tiga kali, yang meninggal adalah orang dewasa. Jika hanya dua kali, yang meninggal adalah anak-anak.
Ciri doro muluk adalah antara pukulan pertama dan kedua terdapat jeda. Selanjutnya pukulan ketiga dan seterusnya semakin cepat dengan suara yang melemah. Saat mencapai titik suara terendah, ada jeda sesaat kemudian nyaring kembali dengan interval yang lebih lambat. Sandi ini umumnya dibunyikan oleh kepala desa/kampung sebagai orang yang paling berwenang.
Titir dibunyikan untuk memberi tahu warga perihal situasi yang sangat berbahaya dan mendadak yang membutuhkan pertolongan segera dari seluruh warga, semisal kebakaran dan bencana alam. Ciri bunyinya adalah kentongan dipukul cepat tanpa nada tinggi atau rendah. Sandi ini boleh dibunyikan oleh siapapun.
Kentong sepisan adalah sandi yang memberitahu atau memanggil seluruh atau sebagian warga untuk berkumpul melakukan musyawarah atau kerja bakit. Nadanya santai dan tenang dengan interval antar pukulan yang teratur.
Sambang umumnya dibunyikan saat dini hari menjelang subuh. Sandi ini mengabarkan pada warga bahwa keadaan aman, masih ada yang berjaga atau belum tidur. Biasanya, setelah ada warga yang membunyikan kentong sambang, akan ada warga lain yang akan membalas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....