Banjir saat Ramadan, Masyarakat Diajak Bijak Tangani Lingkungan

  • 18 Mar 2024 11:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Bencana banjir di sejumlah wilayah mengundang keprihatinan berbagai pihak. Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso mengimbau mental kebencanaan, termasuk sadar lingkungan harus terus ditingkatkan.

“Bencana hidrometeorologi ini selalu berulang, tanah longsor dan banjir membayangi masyarakat. Pengulangan inilah yang harus jadi perhatian semua pihak, agar bisa diantisipasi," katanya dalam keterangannya, Senin (18/4/2024).

"Mental kebencanaan harus terus ditumbuhkan. Baik di pihak berwenang terutama kepala daerah dan masyarakat."

Menurutnya, bencana tidak memilih waktu namun memiliki pola yang jelas. Ramadan tahun ini, saat umat Islam harus menahan diri dengan menahan lapar-dahaga, harus berhadapan dengan bencana.

"Ini kesulitan yang luar biasa namun terdapat hikmah di baliknya. Sudah menjadi sunatullah, saat kita peduli lingkungan, alam juga memberi manfaat bagi umat manusia," ujar dia.

"Alam bisa memberi kehidupan dan penghidupan. Jangan kita abai pada lingkungan."

Ia mengatakan, selain penanganan saat bencana atau musibah, hal yang sangat penting juga untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi. "Langkah mitigasi bencana harus dilakukan kepala daerah dengan membuat aturan yang jelas dan mengevaluasinya," kata dia.

Menurutnya, mitigasi, penghijauan dan larangan permukiman di wilayah-wilayah rawan longsor. Penghijauan baik di daratan maupun pesisir laut dan sungai, menghindarkan lahan tergerus.

"Hutan yang terjaga merupakan wilayah penahan air dan banjir," ujarnya. Senada dengannya, akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Atus Syahbudin mengungkapkan hal serupa.

Ia menilai pemicu bencana hidrometeorologi adalah aktivitas dan jumlah manusia yang terus meningkat. “Serta abainya upaya pelestarian lingkungan hidup,” katanya.

Akibatnya, menurut Atus yang juga Ketua DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu, luasan hutan di Indonesia semakin berkurang. “Sementara itu, laju pembangunan dan pengusahaan sumber daya mineral terus meningkat," ujar dia.

"Sehingga, cenderung merusak ekosistem dan membuat alam semakin melemah,” kata Atus. Melihat fenomena tersebut, maka langkah mitigasi bencana mutlak dilakukan.

Menurut Atus, mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. Baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

"Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mendorong berbagai aksi. Juga adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” ujar Atus.

Misalnya, sejak 2012 digulirkan Program Kampung Iklim (ProKlim). Dimulai dari tingkat tapak, yakni dusun atau kelurahan di pedesaan atau RW atau kelurahan di perkotaan.

“Dengan demikian, aksi adaptasi dan mitigasi terhadap dampak negatif perubahan iklim dapat dilakukan. Termasuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Sementara itu, untuk memitigasi risiko bencana, diperlukan analisis terhadap ancaman. Juga kerentanan, kapasitas dan risiko.

"Ancaman atau bahaya, adalah penyebab celaka, cidera. Serta hilangnya harta benda dan nyawa,” kata dia.

Implementasinya, diperlukan sesegera mungkin beberapa peta zonasi daerah rawan bencana. Seperti banjir, longsor, dan kekeringan.

"Validasinya melalui kejadian sesungguhnya, dengan tingkat ancaman rendah, sedang, atau tinggi. Tergantung irisan antara indeks penduduk terpapar dan indeks ancaman,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....