Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik dan Energi Terbarukan Indonesia

  • 07 Okt 2026 01:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Permintaan listrik Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan seiring pertumbuhan ekonomi, elektrifikasi rumah tangga, penggunaan kendaraan listrik, serta ekspansi industri nasional. Konsumsi listrik diperkirakan melonjak dari 539 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060.

Sekitar 28 persen permintaan listrik diproyeksikan berasal dari rumah tangga, sementara kendaraan listrik menyumbang sekitar 11 persen dari total kebutuhan nasional. Peningkatan tersebut membuka peluang percepatan transisi energi, sekaligus menuntut penyediaan listrik yang andal, efisien, dan semakin ramah lingkungan.

“PLN terus memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah melalui pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap, yang pada fase pertama difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” ujar EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero), Tri Hardimasyar.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kesiapan infrastruktur kelistrikan dalam mengimbangi peningkatan kebutuhan energi nasional. Pengembangan energi surya 100 GWp menjadi salah satu inisiatif untuk mendukung penyediaan energi lebih bersih secara bertahap.

Penelitian Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia mengidentifikasi konversi kompor LPG menjadi kompor induksi sebagai sumber permintaan listrik rumah tangga yang potensial. Apabila diterapkan secara penuh, program tersebut diperkirakan menghasilkan tambahan permintaan listrik antara 27,62 gigawatt (GW) hingga 53,43 GW, bergantung pada efisiensi kompor induksi.

Tambahan kebutuhan listrik dari konversi kompor LPG berpotensi menyediakan permintaan yang andal bagi pengembangan program energi surya 100 GWp. Pelaksanaan program tersebut juga relevan dengan upaya memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi penggunaan energi di sektor rumah tangga.

Saat ini, penggunaan LPG menyumbang sekitar 41,46 persen dari total konsumsi energi rumah tangga Indonesia. Pada saat bersamaan, sekitar 77,6 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor, sehingga ketergantungan tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan energi.

Konversi kompor LPG menjadi kompor induksi berpotensi mengurangi kebutuhan impor sekaligus menghemat devisa negara. Penghematan subsidi juga berpeluang dicapai apabila program menggunakan kompor induksi dengan tingkat efisiensi energi paling tinggi.

Selain rumah tangga, elektrifikasi transportasi melalui peningkatan penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) turut mendukung dekarbonisasi dan pengembangan industri nasional. Penambahan kendaraan listrik dapat mengurangi konsumsi bensin, sekaligus membuka peluang pertumbuhan industri pendukung di dalam negeri.

Data penelitian yang dipaparkan menyebutkan bahwa pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter (KL), atau sekitar 65 persen konsumsi bensin nasional, masih harus dipenuhi melalui impor. Setiap tambahan satu juta kendaraan listrik diperkirakan mampu menghemat sekitar 1.250 KL konsumsi bensin per tahun.

Pengembangan industri kendaraan listrik domestik juga berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru. Dengan demikian, elektrifikasi transportasi dapat mendukung pengurangan impor bahan bakar minyak sekaligus memperluas kesempatan kerja dan memperkuat industrialisasi nasional.

Kebutuhan listrik Indonesia juga meningkat seiring pengembangan industri hilir, terutama melalui hilirisasi mineral dan pertumbuhan pusat data. Berdasarkan RUPTL 2025–2034, hilirisasi nikel diperkirakan membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik captive sekitar 13,6 GW.

Sementara itu, permintaan listrik dari sektor pusat data diproyeksikan meningkat dari 640 megawatt (MW) pada awal 2026 menjadi 1,7 GW pada pertengahan 2027. Pertumbuhan tersebut memperkuat kebutuhan penyediaan listrik yang andal, efisien, dan mendukung pemanfaatan energi terbarukan.

Temuan penelitian Tenggara Strategics dan CSIS Indonesia dipaparkan dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026. Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, Yose Rizal Damuri, membuka acara dengan membahas peluang elektrifikasi serta pentingnya memenuhi peningkatan permintaan listrik menggunakan energi lebih hijau.

Selanjutnya, Gigih Udi Atmo, Direktur Konservasi Energi, Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyampaikan keynote speech mengenai pentingnya efisiensi dalam pelaksanaan elektrifikasi. Efisiensi tersebut diperlukan agar berbagai inisiatif elektrifikasi turut memperkuat ketahanan energi, termasuk melalui penggunaan kompor induksi yang lebih efisien dibandingkan kompor LPG.

Dari perspektif permintaan energi terbarukan, Helen Clarkson, OBE, CEO Climate Group, membahas kebutuhan perusahaan global yang tergabung dalam RE100. Sekitar 35 persen anggota RE100 beroperasi di Indonesia, sehingga ketersediaan energi hijau menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan operasional mereka.

Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, turut menyoroti peningkatan kebutuhan listrik sektor pusat data Indonesia. Sekitar 30 persen anggota IDPRO menargetkan pencapaian net zero pada 2030, sehingga pengadaan energi terbarukan melalui inisiatif seperti energi surya 100 GWp menjadi semakin relevan.

Berbagai perspektif pemerintah dan pelaku industri yang disampaikan dalam diskusi IISF 2026 menunjukkan besarnya peluang elektrifikasi bagi pembangunan nasional. Namun, peningkatan permintaan listrik perlu diimbangi perencanaan penyediaan energi yang efisien, andal, dan berkelanjutan.

Melalui konversi kompor LPG, adopsi kendaraan listrik, hilirisasi industri, serta pengembangan pusat data, elektrifikasi berpotensi mendorong transformasi ekonomi Indonesia. Kolaborasi pemerintah, penyedia listrik, dan pelaku usaha diperlukan untuk memastikan pertumbuhan kebutuhan listrik berjalan seiring percepatan energi terbarukan dan pencapaian target dekarbonisasi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....