Gunung Anak Krakatau Meletus Dua Kali, Ini Sebaran Abu Vulkaniknya
- 06 Okt 2026 09:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan mengalami dua kali erupsi, Senin malam, 5 Oktober 2026.
- BMKG mengatakan, erupsi pertama Gunung Anak Krakatau terjadi pada pukul 20.13 WIB, disusul erupsi kedua sekitar 15 menit kemudian
- Material vulkanik tersebut, terpantau hingga ketinggian sekitar 9.000 kaki atau setara 2,7 kilometer di atas permukaan laut.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan mengalami dua kali erupsi, Senin malam, 5 Oktober 2026. Erupsi tersebut, memunculkan abu vulkanik yang menyebar ke arah barat laut dengan ketinggian mencapai sekitar 2,7 kilometer.
BMKG mengatakan, erupsi pertama Gunung Anak Krakatau terjadi pada pukul 20.13 WIB, disusul erupsi kedua sekitar 15 menit kemudian. "Pada 5 Oktober terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau sebanyak dua kali, yaitu pada pukul 20.13 WIB dan 20.28 WIB," kata Forecaster BMKG Maritim Lampung, Eka Suci Puspita dalam keterangannya, dikutip Selasa, 6 Oktober 2026.
Berdasarkan informasi penerbangan yang diterima BMKG, abu vulkanik masih berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Material vulkanik tersebut, terpantau hingga ketinggian sekitar 9.000 kaki atau setara 2,7 kilometer di atas permukaan laut.
Eka menjelaskan, abu vulkanik dari aktivitas erupsi tersebut bergerak menuju barat laut dengan kecepatan 9 kilometer per jam. Kondisi itu, perlu diperhatikan karena arah maupun luas penyebaran abu dapat berubah mengikuti dinamika angin di atmosfer.
Laporan aktivitas abu vulkanik tersebut, juga tercantum dalam SIGMET yang diterbitkan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin. Dalam laporan pukul 20.40 WIB, abu vulkanik Anak Krakatau teridentifikasi mencapai ketinggian 9.000 kaki.
Abu vukanik tersebut, bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 5 knot. VAAC Darwin turut memperkirakan intensitas penyebaran abu vulkanik masih berpotensi meningkat.
Karena itu, ia menuturkan, kondisi atmosfer dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus menjadi perhatian. "Arah dan sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin di atmosfer," ujar Eka.
BMKG pun mengingatkan, masyarakat serta pengguna jasa penerbangan agar mengikuti informasi terbaru mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Perubahan arah angin dapat memengaruhi jalur serta jangkauan sebaran abu dari kawasan gunung api tersebut.
Masyarakat dan operator penerbangan di sekitar Selat Sunda disarankan memperhatikan pembaruan resmi dari BMKG dan otoritas terkait. Sebelum, melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kondisi udara di wilayah tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....