Kemenperin Catat Industri Mainan Indonesia Serap 15.663 Tenaga Kerja
- 05 Okt 2026 12:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Industri mainan Indonesia memiliki 256 unit usaha berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2024 dan Sistem Informasi Industri Nasional 2025.
- Sektor industri mainan menyerap 15.663 tenaga kerja dari berbagai skala usaha mulai dari kecil hingga besar.
- Industri mainan memiliki 10 sentra IKM (Industri Kecil Menengah) yang tersebar di tiga provinsi dan merupakan bagian dari sektor industri aneka.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat di Indonesia saat ini terdapat sekitar 256 unit usaha industri mainan. Data tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2024 dan Sistem Informasi Industri Nasional 2025.
Dari ratusan unit usaha tersebut menyerap 15.663 tenaga kerja. Kemenperin menyatakan, Industri mainan menjadi bagian dari sektor industri aneka dengan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar.
“Industri mainan memiliki fondasi produksi yang dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Secara nasional, industri mainan telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurutnya, Jawa Tengah memiliki empat sentra Industri Kecil dan Menengah (IKN) mainan, sedangkan Jawa Timur memiliki satu sentra. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah sentra terbanyak dengan lima sentra IKM mainan.
Reni menyebut industri mainan memiliki potensi sebagai sektor padat karya dan menghasilkan produk bernilai tambah. Untuk itu, Kemenperin memperkuat daya saing industri mainan melalui peningkatan kualitas, standardisasi, kapasitas industri, dan akses pasar.
“Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi. Melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat,” ujar Reni.
Reni mendorong penguatan pasar domestik melalui penerapan standar dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Ia juga mendorong penguatan daya saing.
“Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing. Agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional,” ucap Reni.
Dari sisi perdagangan, industri mainan Indonesia mencatat surplus net ekspor selama lima tahun terakhir. Pada 2025, nilai ekspor industri mainan mencapai USD664,6 juta (Rp11,91 triliun) atau meningkat 8,2 persen dibandingkan 2024.
Pada Januari-Juni 2026, nilai ekspor industri mainan kembali meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025. Nilainya naik dari USD297,7 juta (Rp5,34 triliun) pada Januari-Juni 2025 menjadi USD351,8 juta (Rp6,31 triliun) pada Januari-Juni 2026.
“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko. Dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusi di pasar global,” ujar Reni.
Salah satu peluang yang perlu dioptimalkan adalah segmen pasar produk pendidikan. Peluang lainnya terdapat pada produk pembelajaran interaktif.
“Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk. Seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game,” ucap Reni.
Kemenperin juga memperkuat penerapan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) pada industri mainan. Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas. Agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” ujar Reni.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....