Kemenperin Siapkan SDM Kelola Pusat Logistik Industri Bambu
- 04 Okt 2026 19:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perindustrian menyelenggarakan Akademi Komunitas Bambu Tahun Anggaran 2026 di Balai Diklat Industri Denpasar, Bali untuk mempersiapkan SDM industri bambu.
- Program pengembangan SDM difokuskan pada penguatan pengelolaan rantai pasok bambu dari sisi hulu atau produksi bahan baku.
- Upaya ini bertujuan memastikan ketersediaan bahan baku bambu yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan industri nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian menyiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung pengelolaan Pusat Logistik Industri Bambu. Upaya tersebut dilakukan melalui Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, Bali.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan pengembangan SDM diarahkan memperkuat pengelolaan rantai pasok bambu dari sisi hulu. Penguatan tersebut dilakukan untuk mendukung ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan sesuai kebutuhan industri.
“Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara. Potensi tersebut akan semakin optimal apabila didukung SDM yang andal dalam mengelola rantai pasok,” kata Putu dalam keterangannya yang dikutip RRI di Jakarta, Minggu, 4 Oktober 2026.
Putu menuturkan melalui ToT AKB, Kemenperin mempersiapkan SDM yang mampu mengelola pusat logistik bambu. Pengelolaan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bambu siap pakai yang berkualitas.
AKB 2026 telah melalui evaluasi dan penyempurnaan dengan memberikan fokus lebih besar pada penguatan sisi hulu. Program tersebut juga bertujuan menghasilkan SDM industri yang kompeten sekaligus mendukung penjaminan mutu bahan baku.
Putu menjelaskan peserta AKB 2026 direkomendasikan oleh offtaker dan merupakan pemasok atau penggiat bambu di sisi hulu. Mereka memiliki akses dan kemampuan untuk melakukan perbaikan tata kelola pusat logistik bambu.
Penguatan sisi hulu diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri terhadap bahan baku yang berkualitas, dalam jumlah yang memadai, berkelanjutan, dan terstandardisasi. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri bambu dari hulu hingga hilir.
Pasar produk berbasis bambu global diproyeksikan meningkat dari USD74 miliar pada 2024 menjadi USD118,3 miliar pada 2034. Pertumbuhan pasar tersebut memiliki CAGR sebesar 4,8 persen pada periode 2025 hingga 2034.
Pasar ekspor produk bambu global masih didominasi China dengan pangsa 74,8 persen, sedangkan Vietnam berada di posisi berikutnya dengan 3,2 persen. Indonesia menempati posisi 12 besar dunia dengan pangsa pasar sebesar 0,9 persen.
Putu mengatakan potensi pasar global tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok industri bambu dunia. Menurutnya, sumber daya bambu yang melimpah dan beragam perlu diperkuat melalui pengembangan industri serta rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Potensi pasar global tersebut menjadi peluang yang perlu kita manfaatkan untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok industri bambu dunia. Indonesia memiliki sumber daya bambu yang melimpah dan beragam sehingga perlu diperkuat dengan pengembangan industri serta rantai pasok,” kata Putu.
AKB 2025 sebelumnya mencatat sejumlah capaian dalam penguatan rantai pasok bambu. Capaian meliputi kerja sama bambu cendani peserta Purworejo dengan pengusaha Bandung serta pemetaan bambu Jawa Barat-Jawa Tengah.
Kegiatan tersebut juga mencakup pembibitan 200 bibit bambu di Banyuwangi dan penanaman 100 batang bambu di Mojokerto. Selain itu, terdapat pelatihan pengawetan dan pembuatan bambu laminasi di Tasikmalaya.
Program pelatihan AKB 2026 diarahkan untuk mencetak Master Bambu yang memiliki kompetensi teknis dan manajerial. Kompetensi diharapkan mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
Pusat Logistik Industri Bambu diharapkan menjadi simpul penting dalam rantai pasok bambu nasional. Pusat tersebut berfungsi mengumpulkan, mengolah, mengawetkan, dan mendistribusikan bambu yang terstandar, awet, tersertifikasi, serta siap digunakan untuk kebutuhan industri domestik maupun ekspor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....