Kementerian PU Kerahkan Pompa Atasi Kekurangan Air Sawah di Tiga Wilayah Jabar
- 02 Okt 2026 11:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian PU mengerahkan pompa untuk mengatasi kekurangan air persawahan di Bekasi, Karawang, dan Cirebon.
- Penanganan dilakukan melalui penambahan pasokan air serta evaluasi jaringan irigasi dan distribusi menuju lahan petani.
- Kementerian PU akan menindaklanjuti hasil evaluasi untuk memperbaiki layanan irigasi di wilayah terdampak.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan pompa untuk mengatasi kekurangan air di sejumlah persawahan Jawa Barat. Selain menambah pasokan dari sumber terdekat, pemerintah mengevaluasi jaringan irigasi untuk mengidentifikasi hambatan distribusi menuju lahan petani.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, ketersediaan air untuk persawahan perlu dijaga untuk mendukung keberlanjutan produksi pangan. “Yang kita jaga adalah ketersediaan air untuk sawah benar-benar dijaga,” kata Dody dalam keterangan tertulis, Jumat, 2 Oktober 2026.
Penanganan berlangsung di Desa Karangharja, Kabupaten Bekasi, serta Desa Sukatani, Kabupaten Karawang. Lokasi lainnya berada di Desa Kedongdong, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, dengan melibatkan BBWS Citarum dan BBWS Cimanuk Cisanggarung.
Pompa digunakan untuk menambah pasokan air menuju saluran irigasi maupun langsung ke lahan pertanian. Kebutuhan penanganan setiap lokasi berbeda, disesuaikan dengan kondisi jaringan serta mekanisme pengaliran air.
Untuk persawahan di Bekasi dan Karawang yang ditangani merupakan bagian dari Daerah Irigasi (DI) Jatiluhur. Dalam sistem ini, air melewati jaringan primer, sekunder, dan tersier sebelum mencapai petak sawah.
Sementara itu, lokasi penanganan di Cirebon berada dalam sistem layanan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung. Pada titik tertentu, pompa diperlukan karena pengaliran air secara gravitasi mengalami keterbatasan.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU Arnold Aristoteles
Paplapna Ritiauw mengatakan, ketersediaan air harus diikuti distribusi yang lancar. Menurutnya, air dari sumber maupun jaringan utama harus benar-benar mencapai lahan pertanian yang membutuhkan.
“Yang kita pastikan bukan hanya air tersedia di sumber atau di jaringan utama. Tetapi air itu harus benar-benar sampai ke lahan pertanian yang membutuhkan,” ujar Arnold.
Arnold menyebut, evaluasi dilakukan terhadap kondisi saluran, pola pengoperasian jaringan, pembagian air, serta bangunan pengatur. Selain itu, pemeriksaan juga mencakup titik hambatan distribusi sebagai dasar penentuan penanganan lanjutan.
Dalam sistem Jatiluhur, lanjutnya, Perum Jasa Tirta II mengoperasikan jaringan primer dan sekunder serta memelihara jaringan primer. Sementara itu, Kementerian PU melalui BBWS Citarum bertanggung jawab memelihara jaringan sekunder.
Adapun untuk pengembangan dan pengelolaan jaringan tersier berada dalam lingkup Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah dan kelembagaan petani. Arnold menegaskan koordinasi diperlukan karena setiap bagian jaringan saling terhubung.
Kementerian PU menyatakan hasil evaluasi akan ditindaklanjuti untuk memperbaiki layanan irigasi di wilayah terdampak. Langkah tersebut diharapkan membantu memastikan distribusi air menjangkau persawahan yang membutuhkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....