Mengenal MT Haryono, Pahlawan Revolusi yang Fasih Tiga Bahasa
- 01 Okt 2026 10:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Letnan Jenderal Mas Tirtodharmo Haryono adalah pahlawan revolusi yang menguasai tiga bahasa asing yaitu Inggris, Belanda, dan Jerman.
- M.T. Haryono lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924 dan awalnya menempuh pendidikan kedokteran di Ika Daigaku Jakarta.
- Setelah meninggalkan pendidikan kedokteran, Haryono memilih berkarier sebagai tentara dan dipercaya memegang sejumlah posisi penting dalam sejarah Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Letnan Jenderal Mas Tirtodharmo Haryono dikenal sebagai pahlawan revolusi yang menguasai tiga bahasa asing. Kemampuan bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman tersebut mendukung tugasnya dalam sejumlah peristiwa penting.
M.T. Haryono lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924 dan awalnya menempuh pendidikan kedokteran di Ika Daigaku Jakarta. Setelah itu, ia memilih berkarier sebagai tentara dan dipercaya memegang sejumlah posisi penting.
Melansir laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Haryono dipercaya menjadi kepala biro penerangan dan juru bicara Angkatan Perang Republik Indonesia pada Desember 1948. Setahun kemudian, ia ditugaskan dalam delegasi Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.
Dalam KMB, Haryono menjadi perwira termuda dan bertugas sebagai sekretaris para pemimpin tentara. Kemampuan tiga bahasa asingnya turut mendukung tugas Haryono selama menjalankan perundingan tersebut.
Setelah KMB berakhir dan kedaulatan Indonesia diserahkan, Haryono mendapat penugasan baru di Belanda. Ia kemudian diangkat sebagai atase pertahanan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag.
Selama menjalankan tugasnya di Belanda, Haryono menghadapi persoalan kapal Blitar dan Talisse yang membawa senjata. Ia juga pernah menjadi sasaran rencana pembunuhan oleh sekelompok veteran perang Belanda.
Rencana tersebut berhasil digagalkan kepolisian setempat dan para pelakunya kemudian diburu. Salah satu pelaku mengaku pernah menjadi anak buah Raymond Westerling, perwira Belanda di Sulawesi Selatan.
Setelah menyelesaikan tugasnya di Belanda, Haryono kembali ke Indonesia dan melanjutkan karier militernya. Ia kemudian menduduki sejumlah jabatan di bidang inspektorat dan menjadi staf pimpinan tentara.
Pada akhir 1959, Haryono dipercaya memimpin organisasi intelijen Angkatan Darat. Dalam posisi tersebut, ia bersama Sutoyo Siswomiharjo dan Siswondo Parman terlibat dalam penyelidikan skandal bisnis tentara.
Kurang lebih setahun sebelum gugur, Haryono naik pangkat menjadi mayor jenderal dan menjabat Deputi III Menteri Panglima Angkatan Darat. Pada masa itu, muncul usulan pembentukan Angkatan Kelima dengan mempersenjatai kaum buruh dan tani.
Haryono bersama sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menolak usulan tersebut. Ia menjadi sasaran penculikan pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) pada 1 Oktober 1965.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan penculik mendatangi kediaman Haryono untuk membawanya secara paksa. Haryono melakukan perlawanan hingga ditembak di tempat dan tubuhnya dibawa menggunakan truk menuju Lubang Buaya.
Keluarga tetangganya sempat berusaha menghentikan penculikan tersebut dan membantu istrinya mencari keberadaan Haryono. Ia kemudian ditemukan tidak bernyawa di Lubang Buaya bersama enam perwira lainnya.
Untuk menghormati jasanya, pangkat Haryono dinaikkan menjadi Letnan Jenderal Anumerta pada 5 Oktober 1965. Kisah hidupnya tidak hanya dikenang karena gugurnya, tetapi juga kemampuan bahasa dan perjalanan tugasnya bagi Indonesia. (Nadya Syifa Syauqiyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....