Kemenkes Pantau Kabut Asap dengan Alat Ukur PM 2.5

  • 30 Sep 2026 15:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kesehatan melakukan pemantauan kabut asap menggunakan alat pengukur PM 2.5 untuk mengantisipasi dampak terhadap kesehatan masyarakat.
  • Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyatakan pemantauan difokuskan pada wilayah dengan paparan kabut asap yang cukup tinggi.
  • Konsentrasi PM 2.5 paling tinggi ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan memantau kondisi kabut asap di sejumlah wilayah menggunakan alat pengukur particulate matter (PM) 2.5. Alat tersebut digunakan unyuk mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemantauan dilakukan terutama di wilayah yang mengalami paparan kabut asap cukup tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan, konsentrasi PM 2.5 paling tinggi ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan.

“Kabut asap, kita coba pantau dengan menggunakan PM 2.5 atau particulate matter 2.5. Kita punya alatnya untuk mengukur dan memang paling besar itu ada di daerah di Kalimantan,” ujar Dante dalam konferensi pers di Bakom RI, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.

Pemantauan kualitas udara tersebut dilakukan untuk melihat potensi dampak paparan partikel halus terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah gangguan saluran pernapasan akibat iritasi partikel PM 2.5.

Dante mengatakan meski paparan kabut asap masih menjadi perhatian, hingga saat ini belum ditemukan kasus berat. “Sementara ini belum ditemukan kasus yang berat akibat paparan kabut asap ini, tapi kita tetap terus waspada,” kata Dante.

Kementerian Kesehatan, kata Dante, terus melakukan pemantauan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat di wilayah terdampak. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi kualitas udara memburuk.

“Kita terus bagikan kepada masyarakat dan melakukan edukasi untuk tetap berada di dalam ruangan. Kalau ke luar ruangan itu memakai masker,” ujarnya.

Selain pemantauan kualitas udara, pemerintah telah membagikan sekitar 5,3 juta masker di seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan partikel PM 2.5.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....