Ekonomi Meningkat, Pemulihan Kelas Menengah Dinilai Masih Jadi Tantangn

  • 30 Sep 2026 10:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Fithra Faisal menyebut jumlah kelas menengah Indonesia turun 10,6 juta orang, dari 57,3 juta pada 2019 menjadi 46,7 juta pada 2025.
  • Meski angka pengangguran mencapai 4,65 persen, banyak pekerja beralih ke sektor informal dengan tingkat kesejahteraan dan kepastian kerja yang terbatas.
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin ditopang investasi dibandingkan konsumsi rumah tangga, sehingga pemerintah perlu memastikan dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja berkualitas dan kesejahteraan masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Tenaga Ahli Badan Komunikasi RI (Bakom), Fithra Faisal menilai pertumbuhan ekonomi berkualitas harus tercermin melalui perbaikan kesejahteraan masyarakat kelas menengah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum cukup apabila masyarakat belum merasakan pemulihan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan, pemerintah perlu melihat kondisi ekonomi masyarakat sebelum menetapkan target pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

"Pada 2019, jumlah kelas menengah mencapai 57,3 juta orang, tetapi pada 2025 jumlahnya tinggal 46,7 juta orang. Artinya, ada penurunan sebanyak 10,6 juta orang yang menunjukkan sebagian masyarakat mengalami penurunan status ekonomi," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 30 September 2026.

Ia menyebut keterbatasan lapangan kerja formal menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan jumlah kelas menengah. Kondisi tersebut semakin terlihat setelah pandemi Covid-19, ketika banyak pekerja formal beralih ke sektor informal demi mempertahankan penghasilan.

Meski angka pengangguran terakhir tercatat sebesar 4,65 persen, ia mengingatkan bahwa indikator tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kualitas pekerjaan masyarakat. Sebab, sebagian penduduk yang tercatat bekerja justru berada di sektor informal dengan tingkat kesejahteraan dan kepastian kerja yang terbatas.

"Kalau kita melihat lebih jauh, angka pengangguran memang rendah, tetapi banyak pekerja masuk sektor informal. Mereka tetap bekerja, namun pekerjaan yang dijalani belum tentu berkualitas dan mampu memberikan kesejahteraan yang memadai," ujarnya.

Selain kondisi ketenagakerjaan, ia menyoroti perubahan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kini semakin ditopang oleh investasi. Dalam tiga kuartal terakhir, pertumbuhan ekonomi menunjukkan kecenderungan lebih banyak didorong sisi penawaran dibandingkan konsumsi rumah tangga.

Berdasarkan data yang disampaikan Fithra, investasi tumbuh 6,12 persen pada kuartal IV 2025, kemudian 5,96 persen pada kuartal I 2026. Pertumbuhan investasi kembali meningkat menjadi 6,87 persen pada kuartal II 2026, sementara konsumsi hanya tumbuh 5,52 persen dan 5,06 persen.

Ia menilai perubahan tersebut menunjukkan pergeseran struktur pertumbuhan ekonomi dari konsumsi menuju investasi, meskipun konsumsi tetap mendominasi perekonomian nasional. Menurutnya, tantangan pemerintah adalah memastikan pertumbuhan yang ditopang investasi mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....