Bapanas Pastikan Pasokan Beras Tetap Terjaga
- 21 Sep 2026 08:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bapanas memastikan pasokan beras tetap terjaga meski 25 merek beras fortifikasi ditarik dari peredaran
- Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 18 September 2026 mencapai sekitar 4,6 juta ton
- Pemerintah memproses tambahan kuantum Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sebanyak 1 juta ton
- Bulog diminta mengoptimalkan penyaluran beras premium terutama melalui jaringan ritel modern
- Pengawasan mutu dan distribusi beras diperkuat untuk menjaga pasokan sekaligus melindungi konsumen
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan beras tetap terjaga di tengah penarikan 25 merek beras fortifikasi. Pemerintah memperkuat stok, penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta distribusi beras premium.
Per 18 September 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tercatat sekitar 4,6 juta ton. Sepanjang 2026 hingga pertengahan September, penyaluran CBP mencapai sekitar 2,3 juta ton melalui berbagai program intervensi.
Bapanas juga tengah memproses penambahan kuantum SPHP beras sebanyak 1 juta ton. Tambahan tersebut diarahkan ke daerah yang mengalami tekanan harga dan pasokan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman meminta Perum Bulog mengoptimalkan penyaluran stok beras premium. Pasokan premium terutama diarahkan ke jaringan ritel modern untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Beras premium kami minta Bulog optimalkan men-supply, karena stoknya banyak. Itu ke toko-toko ritel modern, itu segera di-supply,” ujar Amran dalam rilis resmi Bapanas, Minggu, 20 September 2026.
Pemerintah memastikan penguatan pasokan berjalan bersamaan dengan pengawasan peredaran beras di pasar. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan dugaan peralihan beras premium menjadi produk yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi.
Pemeriksaan laboratorium kemudian dilakukan terhadap produk yang beredar. Hasilnya menjadi dasar pengawasan dan penarikan terhadap produk yang diduga tidak memenuhi ketentuan mutu dan kandungan sesuai label.
Bapanas mencatat 25 merek beras yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi diduga tidak memenuhi standar dan kandungan yang tercantum pada label. Produk tersebut dinilai tidak memenuhi ketentuan SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi.
Sebanyak 11 pelaku usaha sebagai pemilik 25 izin edar telah mendapat surat peringatan dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) bersama Bapanas. Hingga minggu pertama September 2026, seluruh merek beras fortifikasi tersebut terpantau telah menghentikan produksinya.
Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas Yusra Egayanti mengatakan pemerataan distribusi stok dan SPHP terus diperkuat. Langkah tersebut terutama menyasar daerah yang mengalami tekanan harga dan pasokan.
“Tentunya penugasan Bulog untuk pemerataan distribusi stok dan program SPHP, terutama ke wilayah yang mengalami tekanan harga dan pasokan. Kami terus berkoordinasi dengan Bulog untuk intervensi SPHP ke daerah yang teridentifikasi harga tinggi,” ujar Yusra.
Pemerintah juga menjaga stok CBP sebagai penyangga strategis menghadapi potensi gangguan produksi akibat El Nino. Pengawasan mutu dan penguatan pasokan dilakukan bersamaan agar masyarakat tetap memperoleh beras sesuai kebutuhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....