Menteri Wihaji: Distribusi MBG 3B di Indramayu Capai 80-90 Persen

  • 17 Sep 2026 23:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Distribusi MBG 3B (Makanan Bergizi Gratis untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non PAUD) di Indramayu telah mencapai 80-90 persen menurut Menteri BKKBN Wihaji.
  • Hampir 4.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Indramayu ditugaskan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 115 untuk mendistribusikan MBG 3B kepada kelompok sasaran.
  • Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita di luar program PAUD.

RRI.CO.ID, Indramayu - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyebut distribusi MBG 3B di Indramayu rata-rata telah mencapai 80-90 persen. Distribusi tersebut dilakukan TPK untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non PAUD.

Wihaji menjelaskan, hampir 4.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Indramayu mendapat tugas baru berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115. TPK didayagunakan untuk mendistribusikan MBG 3B kepada kelompok sasaran yaitu Ibu Hamil (Bumil), Ibu Menyusui (Busui) dan Balita.

“Di Indramayu hampir ada 4.000-an Tim Pendamping Keluarga yang hari ini mendapat tugas baru berdasarkan Perpres 115. Kita diminta untuk mendayagunakan para Tim Pendamping Keluarga untuk mendistribusikan MBG 3B,” ujar Wihaji saat ditemui usai acara Temu Kader TPK di Kabupaten Indramayu, Kamis, 17 September 2026.

Wihaji mengatakan pengecekan dilakukan langsung untuk melihat pelaksanaan tugas baru TPK di Indramayu. Ia menyebut distribusi MBG 3B sudah berjalan di sebagian besar wilayah, meski masih terdapat beberapa SPPG yang belum menjalankannya.

“Alhamdulillah lebih dari separuh sudah jalan, ada beberapa yang belum. Karena itu nanti kita yang belum, akan kita tindak lanjuti, SPPG mana yang belum,” kata Wihaji.

Menurut Wihaji, distribusi MBG 3B di Indramayu rata-rata sudah mencapai hampir 80 hingga 90 persen. Pengecekan lapangan dilakukan untuk memastikan tugas distribusi tersebut dapat dikerjakan oleh para TPK.

“Tapi rata-rata hampir 80 sampai 90 persen sudah. Karena itu kita pastikan bahwa tugas baru ini bisa dikerjakan oleh para TPK, maka kita cek langsung,” ujar Wihaji.

Dalam menjalankan tugas distribusi tersebut, TPK mendapat insentif Rp1.000 per ompreng. Wihaji menyebut insentif sudah diberikan dan pembayaran dilakukan setiap 10 hari sesuai protap.

“Dikasih belum insentifnya, ternyata sudah. Berapa hari sekali, 10 hari sekali, sesuai dengan protapnya begitu,” kata Wihaji.

Selain mendistribusikan MBG 3B, TPK tetap menjalankan tugas percepatan penurunan stunting di Indramayu. Wihaji menyebut angka stunting di Indramayu sebesar 9,8 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional 19,8 persen.

“Di Indramayu sudah bagus, 9,8 persen, jadi stunting-nya sudah oke lah. Kalau di nasional kan 19,8 persen, ini lebih bagus dari angka nasional,” ucap Wihaji.

Meski angka stunting Indramayu lebih rendah dibandingkan angka nasional, Wihaji menyebut masih ada sejumlah hal yang harus dikerjakan TPK. Pendampingan tersebut mencakup pernikahan dini, asupan gizi, air bersih, MCK, dan rumah layak.

“Tapi tidak mengurangi tetap bahwa ada hal-hal yang harus dikerjakan oleh mereka. Khususnya mendampingi, mohon maaf, pernikahan dini, agak lumayan di sini,” ujar Wihaji.

Wihaji menegaskan MBG 3B merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi dalam penanganan stunting. Ia menyebut penanganan stunting tidak hanya membutuhkan asupan gizi, tetapi juga rumah layak, air bersih, edukasi, dan sanitasi.

“Apakah langsung selesai stunting-nya, nggak. Karena tidak hanya asupan gizi yang dibutuhkan, butuh rumah layak, butuh air bersih, butuh edukasi, juga butuh sanitasi,” kata Wihaji.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....