Ratusan Gunung Api Aktif, Pakar UGM Dorong Penambahan Alat Monitoring
- 16 Sep 2026 11:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketimpangan Fasilitas: Pemantauan 127 gunung api aktif belum merata. Gunung Merapi paling lengkap, sedangkan pos di daerah terpencil masih mengandalkan seismometer dasar.
- Kebutuhan Alat Modern: Pengawasan gunung api pelosok butuh peningkatan instrumen seperti deformasi, geokimia gas, dan penginderaan jauh (remote sensing) untuk keselamatan petugas.
- Usul Penambahan Balai: UGM mendorong penambahan Balai Pemantauan Regional di daerah rawan untuk memangkas beban kerja pusat PVMBG dan memperkuat mitigasi lokal.
RRI.CO.ID, Jakarta : Fasilitas alat pemantauan gunung api aktif di Indonesia hingga saat ini dinilai belum merata dan masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. Ketimpangan ini menjadi perhatian serius mengingat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif yang tersebar di berbagai kawasan.
Pakar Vulkanologi dari Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agung Harioko, menyebut Gunung Merapi sebagai gunung api dengan fasilitas pemantauan paling lengkap di tanah air. Sementara itu, pos pengamatan gunung api di daerah terpencil dan pulau terluar umumnya hanya mengandalkan peralatan seismik dasar.
"Memang masih terasa bahwa peralatan monitoring itu belum merata, di mana Gunung Merapi memiliki peralatan paling lengkap, tetapi di beberapa gunung api di pelosok kita hanya mengandalkan seismometer," ujar Prof. Agung Harioko, dilansir dari Youtube RRI Pro3, Rabu, 16 September 2026. Keterbatasan alat tersebut membatasi kelengkapan data sekunder seperti parameter deformasi tubuh gunung dan analisis geokimia gas.
Pemerintah melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi saat ini memantau secara efektif 69 gunung api dari total 127 gunung aktif. Dari jumlah tersebut, sebanyak 77 merupakan gunung api Tipe A yang memiliki riwayat letusan sejak tahun 1600 dan membutuhkan pengawasan langsung secara real-time.
Kondisi pos pengamatan di kawasan pelosok umumnya dihadapkan pada keterbatasan instrumen pengukur pergerakan magma yang ideal. Seismometer yang terpasang di daerah pelosok memang mampu merekam aktivitas kegempaan, tetapi belum maksimal untuk memetakan dinamika gunung api secara menyeluruh.
Untuk memperkuat respon cepat dan efisiensi pengawasan di daerah, penguatan struktur kelembagaan pos pengamatan di tingkat daerah dinilai mutlak diperlukan. Penambahan balai pemantauan di wilayah berisiko tinggi diharapkan mampu memangkas alur birokrasi penyampaian analisis kebencanaan.
"Mestinya ini ditambah lagi balai-balai yang ada di daerah, sehingga teman-teman di PVMBG tidak terbebani monitoring sekian banyak gunung api dari pusat," kata Prof. Agung Harioko. Keberadaan balai di tingkat regional akan meningkatkan kapasitas SDM serta mempercepat distribusi rekomendasi bahaya kepada pemerintah daerah.
Saat ini PVMBG baru memiliki tiga unit balai regional, yaitu di Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan Ende (Nusa Tenggara Timur). Penambahan balai di kawasan berisiko tinggi seperti Sumatra dan Maluku dianggap dapat memperkuat mitigasi bencana secara signifikan.
Langkah penguatan ini juga mencakup penyediaan instrumen penginderaan jauh (remote sensing) untuk mengukur konsentrasi gas vulkanik di area berbahaya. Teknologi modern tersebut memungkinkan petugas melakukan pemantauan intensif tanpa harus mempertaruhkan keselamatan jiwa saat aktivitas gunung meningkat.
Optimalisasi fasilitas pemantauan gunung api diyakini menjadi investasi jangka panjang dalam perlindungan keselamatan masyarakat. Sinergi antara modernisasi alat, penambahan unit kerja daerah, dan kesiapsiagaan warga akan meminimalkan risiko korban jiwa akibat erupsi di masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....