Paus Sperma Terdampar di Ternate, KKP Ungkap Hasil Identifikasi

  • 14 Sep 2026 10:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan pengukuran morfometrik, paus tersebut memiliki panjang total mencapai 9,8 meter.
  • Bangkai paus kemudian dikuburkan di sekitar lokasi penemuan untuk memudahkan pemantauan
  • Pengecekan berkala juga dilakukan setelah proses penguburan untuk memastikan kondisi lokasi tetap terkendali

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkap hasil identifikasi paus sperma yang terdampar di Ternate. Paus tersebut ditemukan di pesisir Pantai Afe-Taduma, Kelurahan Afe-Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Maluku Utara.

"Hasil identifikasi menunjukkan paus sperma tersebut berjenis kelamin betina dengan kondisi pembusukan sedang. Kondisi tersebut dikategorikan dengan kode tiga, sementara kulit bagian luar telah mengalami pengelupasan." kata Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Kupang Imam Fauzi dikutip dalam laman, kkp.go.id, Senin, 14 September 2026.

Berdasarkan pengukuran morfometrik, paus tersebut memiliki panjang total mencapai 9,8 meter. Lingkar badan paus tercatat 6,6 meter, panjang sirip dada 75 sentimeter, dan sirip punggung 40 sentimeter.

Sementara itu, panjang ekor paus tersebut mencapai 2,8 meter berdasarkan hasil pengukuran tim KKP. Identifikasi dan pengukuran dilakukan setelah tim menerima laporan masyarakat mengenai paus terdampar.

Laporan tersebut diterima Tim Balai Pengelolaan Kelautan Kupang Satpel Sorong Wilker Ternate pada Selasa, 8 September 2026. Tim kemudian menuju lokasi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Ternate serta sejumlah instansi terkait.

Karena itu, Fauzi mengapresiasi, respons Pemerintah Kota Ternate dan masyarakat. Menurutnya, laporan masyarakat membantu proses identifikasi hingga penanganan bangkai paus berjalan sesuai prosedur.

“Kami sangat mengapresiasi jajaran Pemerintah Kota Ternate. Begitu juga, masyarakat yang sigap melaporkan kejadian ini,” ujar Imam dikutip dalam laman kkp.go.id, Senin, 14 September 2026.

Menurut Imam, sinergi berbagai pihak sangat membantu proses identifikasi dan penanganan paus di lapangan. Kolaborasi tersebut juga diperlukan untuk memastikan penanganan mamalia laut terdampar berjalan cepat dan tepat.

Karena ukuran tubuh paus cukup besar, proses pemindahan menggunakan alat berat berupa ekskavator. Alat tersebut digunakan untuk memindahkan bangkai sekaligus menggali lubang penguburan.

Bangkai paus kemudian dikuburkan di sekitar lokasi penemuan untuk memudahkan pemantauan. Pengecekan berkala juga dilakukan setelah proses penguburan untuk memastikan kondisi lokasi tetap terkendali.

KKP menilai pelaporan masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan mamalia laut terdampar. Respons cepat dan koordinasi lintas sektor juga mendukung pemantauan kondisi biota laut di wilayah pesisir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....