Mendikdasmen: Literasi Tak Cukup Sekadar Baca Tulis

  • 08 Sep 2026 15:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, makna literasi terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
  • Literasi kini tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.
  • Mendikdasmen mengatakan, masyarakat perlu memiliki kemampuan memahami informasi secara kritis dan reflektif.

RRi.CO.ID, Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, makna literasi terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Literasi kini tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.

Menurut Mu’ti, masyarakat perlu memiliki kemampuan memahami informasi secara kritis dan reflektif. Kecakapan tersebut penting di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, dan kecerdasan artifisial.

“Literasi tidak lagi cukup dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat perlu memahami informasi secara kritis dan berpikir reflektif terhadap konten yang dikonsumsi,” ujar Mu’ti dalam Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejatera”, di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.

Mu’ti mengatakan, literasi juga harus mendorong masyarakat terus belajar sepanjang hayat. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat digunakan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi juga perlu dilakukan melalui kolaborasi sekolah, keluarga, komunitas, pemerintah daerah, dan berbagai elemen masyarakat.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan tantangan literasi saat ini semakin luas. Menurutnya, masyarakat harus mampu memilah informasi yang benar dan menghindari informasi yang menyesatkan.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Kita harus mampu membaca informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bijak,” kata Tatang.

Ia menilai keberhasilan literasi tidak cukup dilihat dari kemampuan seseorang membaca dan menulis. Literasi harus memberikan dampak nyata terhadap kemandirian, kepercayaan diri, dan kualitas kehidupan masyarakat.

"Mari jadikan September 2026 sebagai momentum, dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli. Kemudian dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....