BNPB Catat 1.730 Kejadian Bencana hingga September

  • 08 Sep 2026 13:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BNPB mencatat 1.730 kejadian bencana hingga 7 September 2026.
  • Karhutla, banjir, dan cuaca ekstrem mendominasi kejadian bencana.
  • BNPB memaparkan anggaran penanggulangan bencana periode 2022 hingga 2027.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.730 kejadian bencana di Indonesia hingga Senin, 7 September 2026. Bencana hidrometeorologi menjadi kejadian yang paling banyak tercatat sepanjang periode tersebut.

Sekretaris Utama BNPB Rustian mengatakan, Indonesia memiliki risiko bencana sedang hingga tinggi. Risiko tersebut tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.

“Dari kompilasi yang kami miliki dari BNPB sampai dengan tanggal 7 September 2026 berjumlah 1.730 kali. Ini terbagi atas bencana alam, bencana geologi, dan bencana hidrometeorologi,” ujar Rustian dalam konferensi pers secara daring, Selasa, 8 September 2026.

BNPB mencatat 13 kejadian gempa bumi dan tiga erupsi gunung api. Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 627 kejadian dan banjir sebanyak 543 kejadian.

“Cuaca ekstrem tercatat 324 kali, tanah longsor 105 kali, dan kekeringan 101 kali. Gelombang pasang dan abrasi tercatat sebanyak 14 kali,” katanya.

Berbagai bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan pada rumah dan fasilitas publik. Tercatat 29.143 rumah rusak berat, 24.521 rusak sedang, dan 57.869 rusak ringan.

“Kerusakan juga terjadi pada satuan pendidikan dengan jumlah 2.361 unit. Rumah ibadah yang rusak mencapai 867 unit,” ujarnya.

Selain itu, sebanyak 230 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. BNPB juga mencatat 751 kantor dan 92 jembatan mengalami kerusakan akibat bencana.

Rustian mengatakan BNPB menerima anggaran rutin setiap tahun untuk mendukung penanggulangan bencana. BNPB juga memiliki Dana Siap Pakai untuk mendukung penanganan kondisi kebencanaan.

“Untuk tahun 2026, anggaran BNPB senilai Rp1,055 triliun. Ada juga dukungan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi senilai Rp26,89 miliar,” kata Rustian.

Dengan tambahan dukungan tersebut, total anggaran BNPB 2026 mencapai sekitar Rp1,082 triliun. BNPB juga telah menerima Dana Siap Pakai sekitar Rp4,63 triliun pada tahun yang sama.

“Dana Siap Pakai sudah kami terima Rp4,626 triliun. Saat ini sedang berproses usulan penambahan DSP kepada Kementerian Keuangan, mungkin dalam waktu dekat ini kami usulkan penambahan Rp5,68 triliun,” ujar Rustian.

Untuk 2027, BNPB memperoleh anggaran yang telah disetujui serta dukungan rehabilitasi dan rekonstruksi. Dukungan tersebut mencakup tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Untuk kegiatan 2027, anggaran yang sudah disetujui senilai Rp1,370 triliun. Kami juga mendapat dukungan percepatan rehab rekon di tiga provinsi,” kata Rustian.

Rustian mengatakan pemaparan tersebut mencakup pendanaan BNPB selama periode 2022 hingga 2027. Anggaran tersebut menjadi bagian dari instrumen pemerintah dalam mendukung penanggulangan bencana di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....