Inilah Alasan Mengapa Arah Abu Gunung Anak Krakatau Berubah-ubah
- 08 Sep 2026 09:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Erupsi kuat memengaruhi sebaran abu, sebuah kekuatan erupsi menentukan volume abu vulkanik serta ketinggian kolom erupsi yang dihasilkan.
- Abu dapat menyebar puluhan hingga ratusan kilometer mengikuti pola dan kekuatan angin.
- Abu vulkanik Anak Krakatau terpantau menuju DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan Samudra Hindia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan kolom abu dengan ketinggian mencapai 6-15 kilometer. Abu vulkanik menyebar puluhan hingga ratusan kilometer.
Ahli Vulkanologi, Geomorfologi, dan Mitigasi Bencana Gunung Api, Danang Sri Hadmoko mengatakan sebaran abu vulkanik dipengaruhi kekuatan erupsi. Selain itu juga pengaruh mekanisme arah angin.
"Jadi ada beberapa faktor, yang pertama adalah magnitudo dari erupsi itu, kekuatan erupsi, simpelnya adalah kekuatan erupsi. Yang mana sangat menentukan volume abu yang dikeluarkan dan juga ketinggian, kemudian karena ketinggiannya," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Selasa, 8 September 2026.
Ia menjelaskan, arah angin sangat berpengaruh terhadap pergerakan abu vulkanik hingga mencapai ratusan kilometer. Pergerakan abu tersebut dapat dipantau melalui citra satelit secara multitemporal, sehingga arah sebarannya dapat diketahui.
Ia menjelaskan bahwa sebaran abu bisa ke beberapa arah karena pergerakan angin radial, yang menyebar secara tegak atau melingkar. Ini menyebabkan bisa ke segala arah atau ke arah tertentu.
W"Faktor angin kan juga ketika terjadi erupsi, kemudian pergerakannya itu kan radial. Pergerakannya ke segala arah, cuma persentase yang ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, dan seterusnya itu kan berbeda-beda," ujarnya.
Berdasarkan laporan BMKG, sebaran abu setinggi 6,09 km yang bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran ini telah mencapai DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
Kemudian, sebaran abu setinggi 15 km yang bergerak ke arah barat daya hingga barat laut telah sampai ke sejumlah willayah. Yaitu Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.
Sementara itu, studi dampak letusan Gunung Kelud di Jawa Timur pada 2014 menemukan bahwa dampak abu bertahan selama berbulan-bulan. Studi yang dipimpin oleh Universitas Colorado Boulder dilakukan dengan pengamatan dunia nyata dan simulasi komputer canggih.
"Yang kami temukan dari letusan ini adalah abu vulkanik dapat bertahan dalam waktu lama. Mereka melihat beberapa partikel besar melayang di atmosfer sebulan setelah letusan, itu tampak seperti abu," ucap ilmuwan peneliti di Laboratorium Fisika Atmosfer dan Antariksa (LASP) di CU Boulder, Yunqian Zhu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....