Yusril Tegaskan Hanya Jadi Narasumber Buku Islam ala Prabowo
- 08 Sep 2026 07:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Yusril Ihza Mahendra, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, menegaskan hanya berperan sebagai narasumber dalam buku Islam ala Prabowo.
- Yusril menyatakan tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan judul, proses penggagasan, maupun pembiayaan penerbitan buku tersebut.
- Keterlibatan Yusril terbatas hanya sebagai narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun buku.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan dirinya hanya narasumber buku Islam ala Prabowo, bukan penulis maupun penggagas penerbitannya. Yusril mengatakan dirinya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan judul, proses penggagasan, maupun pembiayaan penerbitan buku tersebut.
Lebih lanjut, Yusril mengatakan keterlibatannya dalam buku tersebut hanya sebagai narasumber yang diwawancarai tim penyusun. Ia mengaku tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan judul, penggagasan, maupun pembiayaan penerbitan buku.
“Saya tidak menulis buku itu, saya hanya diwawancarai tim penyusun dan tidak pernah melihat naskah sebelum diterbitkan. Posisi saya jelas sebagai orang yang diwawancarai, bukan sponsor dan bukan pula orang yang menginisiasi penerbitannya,” kata Yusril Ihza Mahendra dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Yusril, wawancara dilakukan jauh sebelum dirinya dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih. Ia juga mengaku tidak lagi mengingat siapa yang mewawancarainya.
“Saya sudah tidak ingat siapa yang mewawancarai saya dan saya juga tidak tahu apakah dia bagian dari tim penyusun atau tim yang menyiapkan bahan untuk buku itu. Saya tidak mengenalnya secara pribadi,” ujarnya.
Setelah membaca buku tersebut secara utuh, Yusril menilai tidak ada persoalan mendasar dalam substansi yang berasal dari wawancaranya. Ia menyebut pandangan yang disampaikannya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik,” katanya.
Selain itu, Yusril menilai polemik buku tersebut lebih banyak muncul akibat pemilihan judul Islam ala Prabowo. Menurutnya, judul tersebut dapat menimbulkan beragam persepsi dan tafsir di tengah masyarakat.
Ia menegaskan tidak pernah diajak berdiskusi atau dimintai pendapat mengenai judul buku tersebut. Karena itu, keputusan mengenai judul sepenuhnya menjadi kewenangan pihak penyusun dan penerbit.
“Kalau saya ditanya mengenai judulnya, saya tidak tahu karena memang tidak pernah diajak membicarakannya. Kalau judulnya misalnya ‘Prabowo dan Islam’, menurut saya akan lebih mudah dipahami,” ucap Yusril.
Yusril mengingatkan masyarakat agar tidak menilai sebuah buku hanya berdasarkan judul atau potongan informasi yang beredar. Menurutnya, isi buku perlu dibaca secara utuh sebelum memberikan penilaian.
“Saya kira kita perlu membiasakan diri membaca dan memahami substansinya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai judul, sementara isi bukunya sendiri belum pernah dibaca dengan seksama,” ujar Yusril mengungkapkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....