Kemdiktisaintek Luncurkan AKPT Perkuat Kepemimpinan Perguruan Tinggi
- 07 Sep 2026 14:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemdiktisaintek meluncurkan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) untuk memperkuat kapasitas pemimpin perguruan tinggi di Indonesia.
- Program AKPT dirancang sebagai ekosistem transformasi dan regenerasi kepemimpinan pendidikan tinggi, bukan hanya pelatihan teknis semata.
- Inisiatif ini bertujuan mendorong kampus menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional melalui kepemimpinan yang berkualitas dan transformasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT). Program ini dirancang untuk strategi memperkuat kapasitas pemimpin perguruan tinggi sekaligus mendorong kampus menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional
Kemdiktisaintek menilai dinamika lanskap pendidikan tinggi nasional menuntut kualitas kepemimpinan perguruan tinggi yang mampu melakukan transformasi sumber daya. AKPT hadir bukan hanya sebagai pelatihan teknis kepemimpinan, melainkan juga ekosistem transformasi dan regenerasi kepemimpinan pendidikan tinggi Indonesia.
"Sebagai informasi, Kelas Pimpinan diikuti 34 Perguruan Tinggi Negeri dengan 34 peserta. Kelas Future Leader diikuti 34 Perguruan Tinggi Negeri dengan 61 peserta," kata Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Sri Suning Kusumawardani dalam acara peluncuran AKPT di Kemendiktisaintek, Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Menurutnya, kurikulum dan metode instruksional AKPT dikembangkan berdasarkan empat pilar Utama. Yaitu Evidence-based Leadership Development, Contextually Grounded Leadership, Peer Accelerated Learning, dan Impact Oriented Development.
Keempat pilar ini diturunkan ke dalam sembilan dimensi kompetensi Utama. Meliputi Kepemimpinan Strategis, Good University Governance, Kepemimpinan Akademik, Kepemimpinan Keuangan, Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Budaya Organisasi.
Lalu Transformasi Digital dan AI, Diplomasi dan Jejaring Global, Kepemimpinan Berbasis Nilai, serta Pengembangan Talenta Unggul. Sri mengatakan, Rangkaian AKPT Angkatan 1 Tahun 2026 dilaksanakan melalui lima tahapan pembelajaran yang melibatkan beberapa perguruan tinggi.
"Tahap yang pertama yaitu Foundation of Higher Education Leadership yang diselenggarakan dengan kolaborasi dengan Universitas Bina Nusantara. Kemudian tahap yang kedua yaitu Strategic University Leadership yang direncanakan akan berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada di bulan September ini," ujarnya.
"Tahap ketiga yaitu Institutional Transformation and Innovation diselenggarakan berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung di bulan Oktober. Tahap keempat, Global Engagement and Future University direncanakan akan berkolaborasi dengan Universitas Indonesia di bulan Oktober," ucapnya.
Sementara itu, tahap kelima, bersamaan dengan acara Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI). Yaitu Capstone Project and Leadership Residency direncanakan di Universitas Airlangga.
"Di antara setiap tahap, para peserta diwajibkan menyusun dan menerapkan Action Learning Project atau Proyek Transformasi Institusi. Guna memastikan bahwa teori yang didapatkan langsung diimplementasikan pada kampus masing-masing," katanya.
Menurutnya, Keberhasilan AKPT tidak semata-mata diukur dari formalitas jumlah modul, kelengkapan presensi, dan lembar sertifikat. Keberhasilan AKPT tercapai jika para peserta dapat melakukan transformasi perguruan tingginya menjadi lebih akuntabel dan transparan.
Hal yang sama disampaikan Wamendiktisaintek, Fauzan. Ia menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.
“Pendidikan ini perlu ditempatkan sebagai infrastruktur strategis pertumbuhan,” ujar Fauzan. Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki posisi penting dalam menyiapkan talenta, teknologi, riset, dan inovasi yang dapat memperkuat kapasitas produktif Indonesia.
Untuk itu, ia menilai perguruan tinggi perlu mulai menggeser orientasi yang hanya tidak sekadar mengejar capaian akademik. Melainkan menuju pendidikan yang memberikan dampak nyata terhadap produktivitas, inovasi, daya saing industri, lapangan kerja, dan pembangunan.
Fauzan mengatakan, target pertumbuhan ekonomi delapan persen 2029 dan visi menuju Indonesia Emas 2045 menuntut peningkatan kapasitas produktif nasional. Kondisi tersebut antangan bagi para pemimpin perguruan tinggi untuk tidak lagi menggunakan pola kepemimpinan yang berjalan seperti biasa.
Terlebih, lanjutnya, juga akan menghadapi, bonus demografi. Menurutnya, besarnya jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila didukung sumber daya manusia yang berkualitas.
“Jawaban untuk dapat berhasil dan tidaknya sebenarnya sangat tergantung kepada kualitas SDM. Ketika bicara tentang kualitas SDM, tentu akan dikembalikan kepada sistem pendidikan,” kata Wamen Fauzan.
Pada Angkatan 1 Tahun 2026, kelas pimpinan diikuti 34 peserta dari 34 perguruan tinggi negeri. Sementara Kelas Future Leader diikuti 61 peserta dari 34 perguruan tinggi negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....