Aktivitas Gunung Api Berdekatan Dinilai Fenomena Wajar

  • 06 Sep 2026 22:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Aktivitas gunung api yang terjadi berdekatan di Indonesia merupakan fenomena geologi vulkanisme yang wajar dan merupakan proses alami pada gunung api aktif.
  • Ahli kebencanaan menekankan pentingnya masyarakat mencermati fenomena gunung api secara proporsional tanpa menimbulkan kepanikan yang berlebihan.
  • Proses vulkanisme adalah bagian integral dari aktivitas geologis yang harus terjadi pada gunung api yang masih aktif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi berdekatan dinilai sebagai fenomena wajar. Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses geologi vulkanisme pada gunung api aktif.

“Masyarakat perlu mencermati fenomena tersebut secara proporsional, tanpa menimbulkan kepanikan. Apa yang terkait gunung api merupakan sebuah proses geologi vulkanisme yang harus terjadi,” ujar Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, saat berbincang dengan Pro3 RRI, Minggu, 6 September 2026.

Menurut Daryono, aktivitas sejumlah gunung api, termasuk Krakatau, Lewotolok, dan Sinabung, merupakan manifestasi proses tektonik global. Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang memiliki aktivitas vulkanik dan tektonik tinggi.

“Kalau melihat fenomena simultan gunung api di Indonesia, Gunung Krakatau, Gunung Lewotolok, Sinabung, itu manifestasi tektonik global. Secara geologi tidak ada semacam channel yang menghubungkan gunung itu,” katanya.

Secara geologi, tidak terdapat saluran yang menghubungkan gunung-gunung api tersebut. Setiap gunung memiliki sistem magma dan proses vulkanisme yang berbeda.

Di sisi lain, kinerja Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam memantau aktivitas gunung api dinilai baik. Informasi mengenai kondisi setiap gunung api juga telah disampaikan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mitigasi.

Meski demikian, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat. Penyampaian informasi juga harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dalam memahami langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....