Update Terkini Gunung Anak Krakatau dan Dampaknya di Berbagai Wilayah

  • 06 Sep 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat Jawa Barat bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang dimulai pada 4 September 2026.
  • Erupsi Gunung Anak Krakatau disertai dengan fenomena lava fountain (semburan lava berkelanjutan), suara gemuruh, dan dentuman yang dapat didengar oleh penduduk di wilayah sekitar.
  • Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa aktivitas erupsi tersebut merupakan peristiwa berlanjut yang memerlukan pengamatan dan penjelasan ilmiah untuk publik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Geologi mengungkap asal dari suara dentuman dan getaran di Jawa Barat berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak September 2026.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan erupsi berlanjut dimulai pada Jumat, 4 September 2026. Erupsi tersebut disertai oleh semburan lava berlanjut atau lava fountain, suara gemuruh, dan suara dentuman yang terdengar masyarakat.

“Pada Jumat, 4 September 2026 23.07, Anak Krakatau erupsi menerus disertai semburan lava, suara gemuruh, serta dentuman. Erupsi berhenti di jam 12.04 WIB pada 6 September 2026 dan ini sudah lebih dari 24 jam,” ucap Lana dalam konferensi pers, Minggu, 6 September 2026.

Anak Krakatau pernah erupsi pada 22 Desember 2018 yang menimbulkan longsor dan gelombang tsunami. Anak Krakatau kembali erupsi pada 2 Juli 2026 dan status aktivitasnya berubah dari Level 2 menjadi Level 3.

Pada 4 hingga 5 September 2026, masyarakat dari beberapa daerah Jawa Barat melaporkan suara getaran dan dentuman. Getaran tersebut bahkan dapat terlihat melalui kaca dan pintu rumah oleh beberapa warga di wilayah terdampak.

“Kesesuaian waktu dengan erupsi Gunung Api Anak Krakatau dan sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat. Kedua bukti tersebut mendukung kuat fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Api Anak Krakatau,” kata Lana.

Menurut Badan Geologi, peristiwa tersebut disebabkan oleh gelombang akustik berfrekuensi rendah yang berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Gelombang akustik mampu merambat jauh melalui atmosfer dalam situasi tertentu dan akan terdengar sebagai suara dentuman.

Ia mengatakan fenomena serupa pernah terjadi saat Gunung Kelud mengalami erupsi eksplosif pada Februari 2014. Kala itu, suara erupsi Gunung Kelud dilaporkan terdengar hingga ke beberapa daerah di Jawa Tengah.

Selain suara dentuman, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga terpantau menyebar menuju beberapa daerah Indonesia. Berdasarkan pemantauan terbaru, wilayahnya mencakup DKI Jakarta, Banten, sebagian Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Kepala PVMBG, Rita Susilawati menyampaikan bahwa pemantauan jalur penerbangan dilakukan melalui Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA). Informasi tersebut tersedia melalui aplikasi MAGMA Indonesia milik Kementerian ESDM yang menyediakan berbagai data hasil pemantauan aktivitas vulkanik.

“Gumpalan abu pekat terlepas dari kawah aktif dan melayang ke barat daya melalui Samudera Hindia. Lapisan menengah di 20 ribu kaki,” ucap Rita.

“Emisi abu aktifnya terus berlangsung dari lubang kawah dan terbawa angin ke barat. Untuk lapisan menengah di 20 ribu kaki,” ujar Rita.

“Ini teramati bahwa sisa debu halus dari fase erupsi sebelumnya, bergeser ke timur menuju perairan Selat Sunda selatan,” kata Rita.

Badan Geologi dan PVMBG mengimbau masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diminta untuk mengikuti informasi resmi pemerintah dan menghindari area Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....