BMKG Ungkap Data Erupsi Anak Krakatau, Amplitudo Maksimum 19 Milimeter

  • 06 Sep 2026 12:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG mengungkapkan, hasil pemantauan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat, 4 September 2026 malam.
  • BMKG mencatat, aktivitas erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 19 milimeter dengan durasi sekitar 29 detik.
  • Tidak ditemukan adanya anomali pada rekaman seismograf BMKG di sekitar waktu kejadian

RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG mengungkapkan, hasil pemantauan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat, 4 September 2026 malam. BMKG mengatakan, aktivitas tersebut terekam stasiun seismograf, namun tidak ditemukan anomali pada rekaman kegempaan di sekitar waktu kejadian.

BMKG mencatat, aktivitas erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 19 milimeter dengan durasi sekitar 29 detik. Data tersebut diperoleh dari rekaman stasiun seismograf yang memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Aktivitas erupsi terekam pada stasiun seismograf dengan amplitudo maksimum 19 mm dan durasi sekitar 29 detik. Tidak ditemukan adanya anomali pada rekaman seismograf BMKG di sekitar waktu kejadian,” kata BMKG dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 6 September 2026.

BMKG juga menyebut, aktivitas yang teramati berupa letusan strombolian. Sementara itu, kolom abu dari erupsi tersebut tidak teramati dalam pemantauan yang dilakukan BMKG.

Selain aktivitas kegempaan, BMKG turut memantau kondisi muka air laut setelah terjadinya erupsi. Hingga Sabtu, 5 September 2026, pukul 10.30 WIB, BMKG menyatakan, tidak terdapat kenaikan muka air laut yang signifikan.

Temuan BMKG tersebut, menjadi salah satu informasi penting di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap aktivitas Anak Krakatau. Sebab, selain aktivitas vulkanik, perkembangan kondisi laut di sekitar kawasan Selat Sunda juga menjadi bagian dari pemantauan otoritas terkait.

“BMKG akan terus memonitor kondisi ini secara real-time dan berkoordinasi dengan pihak terkait,” ucap BMKG. Pemantauan dilakukan, guna mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi berdampak terhadap masyarakat maupun aktivitas penerbangan.

Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berada pada status Level III atau Siaga. Badan Geologi PVMBG Kementerian ESDM, sebelumnya menetapkan status tersebut sejak 2 Juli 2026 dan hingga laporan terbaru statusnya masih berlaku.

Badan Geologi dalam laporan khususnya menyebut, rangkaian erupsi tipe Strombolian Anak Krakatau terus berlangsung hingga 5 September 2026. Laporan tersebut juga mencatat adanya erupsi menerus yang disertai suara gemuruh serta semburan merah menyala yang menyerupai lava fountain.

Masyarakat di wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau tetap diminta mengikuti informasi dari lembaga resmi. Pada status Level III, masyarakat, wisatawan, dan pengunjung dilarang memasuki kawasan radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

BMKG juga mengimbau masyarakat tidak panik dan tidak mudah mempercayai informasi yang sumbernya tidak jelas. Masyarakat diminta, merujuk pada informasi resmi BMKG, PVMBG, dan Badan Geologi untuk mendapatkan perkembangan terbaru mengenai aktivitas Anak Krakatau.

“Tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu atau hoaks yang beredar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujar BMKG. Pemantauan terhadap aktivitas Anak Krakatau akan terus dilakukan secara real-time bersama instansi terkait.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....