Dentuman di Jawa Barat, PVMBG Duga akibat Erupsi Anak Krakatau
- 05 Sep 2026 15:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kesamaan waktu erupsi dan laporan masyarakat menjadi indikasi korelasi, tetapi belum membuktikan sumber dentuman secara pasti
- Masyarakat diminta mematuhi radius tiga kilometer dari pusat aktivitas dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya erupsi
- PVMBG menduga erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu kemungkinan sumber dentuman di sejumlah wilayah Jawa Barat
RRI.CO.ID, Jakarta – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menduga erupsi Gunung Anak Krakatau berkaitan dengan suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah. Dentuman dan getaran dilaporkan masyarakat di Jawa Barat, Banten, dan Lampung pada 4-5 September 2026.
Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan, dugaan tersebut berdasarkan kesamaan waktu kejadian. "Kami menduga ada kaitannya dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung bersamaan,” kata Rita dalam konferensi pers daring, Sabtu, 5 September 2026.
Namun, Rita menegaskan sumber dentuman belum dapat dipastikan hingga saat ini. PVMBG masih mencocokkan waktu erupsi Gunung Anak Krakatau dengan waktu laporan masyarakat di lapangan.
Menurutnya, kesamaan waktu menjadi indikasi adanya korelasi, tetapi belum cukup membuktikan sumber dentuman secara pasti. Rita menjelaskan suara erupsi dapat merambat hingga jarak yang cukup jauh dalam kondisi tertentu.
Ia mencontohkan erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014 yang terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Tengah. Saat itu, kolom erupsi Gunung Kelud mencapai sekitar 17 kilometer dan melepaskan energi akustik sangat besar.
Rita juga mengaitkan dugaan tersebut dengan erupsi Gunung Anak Krakatau pada April 2020. Pada 11 April 2020, suara dentuman Gunung Anak Krakatau dilaporkan terdengar hingga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Pencocokan waktu menunjukkan laporan tersebut berkesesuaian dengan erupsi Anak Krakatau pada 10 April 2020. Rita menambahkan kondisi atmosfer, termasuk perbedaan temperatur dan kecepatan angin, dapat memengaruhi perambatan suara.
Meski demikian, penjelasan mengenai faktor cuaca tersebut berada dalam ranah institusi terkait. PVMBG mengimbau masyarakat tetap mematuhi radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. "Wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau, ini agar tetap dipatuhi dan waspadai," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....