Awas Awan Cumulonimbus, BMKG Sebut Dua Wilayah Ini Masuk Kategori 'Frequent'

  • 01 Sep 2026 18:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memprakirakan, pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada 1-7 September 2026.
  • Kedua wilayah tersebut berada di kawasan perairan Samudra Hindia. Lokasinya meliputi Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai dan Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Nias
  • Wilayah Sumatra, kata BMKG, potensi awan Cumulonimbus kategori Occasional terdapat di Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG memprakirakan, pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada 1-7 September 2026. Dua kawasan di Indonesia, bahkan masuk kategori Frequent (FRQ), yang menunjukkan potensi cakupan spasial awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.

"Kedua wilayah tersebut berada di kawasan perairan Samudra Hindia. Lokasinya meliputi Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai dan Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Nias," kata BMKG dalam keterangannya pada laman resminya, Selasa, 1 September 2026.

Selain kategori Frequent, BMKG juga mendeteksi, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan kategori Occasional (OCNL). Kategori tersebut, menunjukkan cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus berada pada kisaran 50 hingga 75 persen.

Wilayah Sumatra, kata BMKG, potensi awan Cumulonimbus kategori Occasional terdapat di Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Sementara, di Pulau Kalimantan, wilayah yang masuk kategori tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Potensi awan Cumulonimbus kategori Occasional, disebutkan BMKG, juga terdeteksi di sejumlah wilayah Sulawesi. Daerah tersebut, mencakup Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Di kawasan Papua, potensi kategori Occasional tersebar di Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah.

Kondisi tersebut, BMKG menjelaskan, membuat masyarakat di wilayah yang masuk dalam pemantauan perlu mengikuti perkembangan cuaca terbaru. Sejumlah wilayah perairan juga masuk dalam kategori Occasional, berikut daftarnya:

• Laut Natuna Utara

• Laut Sulawesi bagian barat

• Samudra Hindia barat Aceh,

• Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai

• Samudra Hindia barat Kepulauan Nias

• Samudra Pasifik utara Papua, Samudra

• Pasifik utara Papua Barat Daya

• Selat Makassar bagian tengah dan utara

• Selat Malaka bagian tengah dan utara.

Mengenal Kategori Awan Cumulonimbus BMKG

BMKG menjelaskan, informasi mengenai potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus merupakan bagian dari produk prakiraan cuaca untuk penerbangan. Produk tersebut, dihasilkan menggunakan model cuaca numerik.

Hasilnya, memberikan gambaran mengenai kemungkinan sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di Indonesia selama tujuh hari ke depan. Dalam prakiraannya, BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus ke dalam tiga kategori berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum.

Kategori tersebut terdiri atas Isolated Cb (ISOL), Occasional Cb (OCNL), dan Frequent Cb (FRQ).

Kategori Isolated Cb atau ISOL menunjukkan adanya awan Cumulonimbus dengan cakupan area kurang dari 50 persen.

Sementara Occasional Cb atau OCNL menunjukkan cakupan awan Cumulonimbus sekitar 50 hingga 75 persen. Adapun Frequent Cb atau FRQ merupakan kategori dengan cakupan spasial awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.

Untuk periode 1-7 September 2026, kategori FRQ hanya mencakup dua wilayah di Indonesia. Yakni, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....