Sejarah Hari Polwan 1 September hingga Perkembangannya di Indonesia
- 01 Sep 2026 09:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Polwan diperingati setiap 1 September, berawal dari pendidikan enam perempuan di Bukittinggi pada 1948.
- Enam perintis Polwan menjalani pendidikan inspektur polisi sebelum mulai bertugas pada 1 Mei 1951.
- Pendidikan dan karier Polwan terus berkembang hingga kesempatan menduduki jabatan strategis semakin terbuka.
RRI.CO.ID, Jakarta – Hari Polisi Wanita atau Polwan diperingati setiap 1 September di Indonesia. Peringatan tersebut menandai perjalanan perempuan dalam institusi kepolisian sejak 1948.
Kelahiran Polwan berawal dari kebutuhan kepolisian ketika menangani pemeriksaan terhadap perempuan. Kondisi tersebut kemudian membuka jalan bagi perempuan mengikuti pendidikan kepolisian secara resmi.
Melansir laman resmi Polri, berikut sejarah lahirnya Polwan hingga perkembangannya dalam Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Berawal dari Kesulitan Pemeriksaan Perempuan
Sejarah Polwan bermula pada awal 1948 ketika kepolisian menghadapi kendala dalam pemeriksaan perempuan. Kesulitan terutama muncul saat memeriksa korban, tersangka, maupun saksi yang membutuhkan pemeriksaan fisik.
Saat itu, polisi meminta bantuan istri anggota kepolisian maupun pegawai sipil perempuan. Bantuan tersebut diperlukan karena pemeriksaan fisik perempuan tidak memungkinkan dilakukan seluruhnya oleh polisi laki-laki.
Kondisi itu kemudian mendapat perhatian organisasi perempuan dan organisasi perempuan Islam di Bukittinggi. Mereka mengusulkan agar perempuan diberi kesempatan mengikuti pendidikan kepolisian.
Usulan tersebut mendapat respons dari Cabang Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatera di Bukittinggi. Kepolisian kemudian membuka kesempatan bagi perempuan terpilih untuk mengikuti pendidikan polisi.
Enam Perempuan Jadi Perintis Polwan
Kesempatan tersebut terwujud pada 1 September 1948 melalui penerimaan enam siswa perempuan. Mereka mengikuti pendidikan inspektur polisi di Sekolah Polisi Negara atau SPN Bukittinggi.
Enam perempuan itu menjalani pendidikan bersama 44 siswa laki-laki dalam satu angkatan. Keikutsertaan mereka kemudian menjadi tonggak lahirnya Polisi Wanita di Indonesia.
Mereka adalah Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, dan Rosnalia Taher. Keenamnya kemudian dikenal sebagai perempuan perintis Polwan Indonesia.
Tanggal dimulainya pendidikan tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Polwan setiap 1 September. Bukittinggi pun menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Polisi Wanita Indonesia.
Pendidikan Terhenti Akibat Agresi Militer
Perjalanan pendidikan enam calon inspektur perempuan tersebut tidak langsung berjalan hingga selesai. Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 membuat pendidikan di Bukittinggi dihentikan.
Situasi keamanan saat itu menyebabkan kegiatan pendidikan inspektur polisi harus ditutup sementara. Keenam calon Polwan kemudian menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan.
Setelah Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, pendidikan mereka kembali dilanjutkan pada 19 Juli 1950. Keenamnya kemudian mengikuti pelatihan di Sekolah Polisi Negara Sukabumi.
Selama pendidikan, mereka mendapatkan materi kemasyarakatan, pedagogi, sosiologi, psikologi, hingga pendidikan kejiwaan. Mereka juga mengikuti latihan anggar, jiu-jitsu, judo, serta latihan militer.
Awal Mula Bertugas
Setelah menyelesaikan pendidikan, enam calon inspektur Polwan mulai bertugas pada 1 Mei 1951. Mereka ditempatkan di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta Raya.
Penugasan awal mereka banyak berkaitan dengan perempuan, anak-anak, serta berbagai permasalahan sosial. Polwan juga membantu proses pemeriksaan perkara yang melibatkan saksi maupun tersangka perempuan.
Mereka turut menangani upaya pencegahan kejahatan yang dilakukan oleh maupun terhadap perempuan dan anak. Tugas lainnya mencakup pengawasan terhadap pelacuran serta perdagangan perempuan dan anak.
Kehadiran Polwan kemudian semakin dibutuhkan seiring berkembangnya tugas kepolisian di Indonesia. Perannya perlahan meluas melampaui tugas khusus yang berkaitan dengan perempuan.
Pendidikan Polwan Terus Berkembang
Perubahan juga terjadi pada sistem pendidikan Polwan mengikuti perkembangan institusi kepolisian. Pada 1965, pendidikan calon perwira Polwan mulai diintegrasikan dengan calon perwira polisi laki-laki.
Integrasi tersebut berlangsung melalui Akademi Angkatan Kepolisian atau AAK di Yogyakarta. Namun, perekrutan Polwan melalui jalur tersebut hanya berlangsung untuk satu angkatan.
Jalur perekrutan kemudian dilakukan melalui perwira karier bagi lulusan sarjana dan sarjana muda. Pendidikan tersebut berlangsung melalui Sekolah Perwira Militer Wajib atau SEPAMILWA.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 1975 melalui pembukaan kelas pendidikan bintara Polwan di Dodiklat 007 Ciputat. Langkah tersebut semakin membuka kesempatan perempuan untuk bergabung dalam kepolisian.
Pada 1982, Dodiklat 007 berubah menjadi Pusat Pendidikan Polisi Wanita atau Pusdikpolwan. Lembaga tersebut kemudian berganti nama menjadi Sekolah Polisi Wanita pada 30 Oktober 1984.
Berdirinya Sepolwan menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan khusus bagi anggota polisi perempuan. Kehadirannya juga meningkatkan minat perempuan untuk bergabung dengan Polri.
Lambang Polwan Disahkan pada 1986
Perjalanan Polwan turut ditandai dengan pengesahan lambang khusus pada 29 November 1986. Lambang tersebut disahkan Kapolri Jenderal Polisi Mochammad Sanoesi melalui Surat Keputusan No. Pol.: Skep/480/XI/1986.
Lambang Polwan memiliki unsur bunga matahari, perisai, obor, tiga bintang emas, serta angka 1948. Setiap unsur menggambarkan identitas, pedoman hidup, serta perjalanan awal Polisi Wanita Indonesia.
Bunga matahari menggambarkan sifat perempuan, sedangkan jumlah helainya berkaitan dengan Tribrata dan Catur Prasetya. Perisai dan obor menggambarkan Polwan sebagai bagian dari Kepolisian Republik Indonesia.
Tiga bintang emas melambangkan Tribrata sebagai pedoman hidup setiap anggota Polri. Sementara angka 1948 menandai tahun pertama hadirnya Polwan dalam kepolisian Indonesia.
Lambang tersebut juga memuat semboyan Esthi Bhakti Warapsari. Maknanya menggambarkan pengabdian perempuan pilihan untuk mewujudkan cita-cita luhur bagi bangsa dan negara.
Kiprah Perjalanan Polwan
Perjalanan Polwan selanjutnya ditandai semakin terbukanya kesempatan menduduki berbagai jabatan kepolisian. Pada 1987, Lettu Pol. Dwi Gusiyati menjadi Polwan pertama yang menjabat Kapolsek Pasar Kliwon, Solo.
Empat tahun kemudian, Brigadir Jenderal Polisi Jeanne Mandagi menjadi Polwan pertama berpangkat jenderal bintang satu. Pencapaian tersebut menjadi bagian penting perkembangan karier perempuan di lingkungan Polri.
Jejak sejarah kelahiran Polwan juga diabadikan melalui pembangunan Monumen Polwan di Bukittinggi. Monumen tersebut diresmikan pada 27 April 1993 oleh Kapolri Jenderal Polisi Banoeroesman Astrosemitro.
Memasuki era 2000-an, kesempatan perempuan mengikuti pendidikan calon perwira di Akademi Kepolisian kembali terbuka. Sejak saat itu, ruang bagi Polwan menduduki berbagai jabatan strategis semakin berkembang.
Peringatan Hari Polwan setiap 1 September menjadi pengingat perjalanan panjang enam perempuan perintis tersebut. Langkah mereka membuka jalan bagi generasi Polwan untuk menjalankan beragam tugas kepolisian hingga sekarang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....