Kemandirian Energi dan Nilai Tambah Ekonomi Jadi Fokus PLTS 100 GWp

  • 01 Sep 2026 00:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah mendorong kemandirian energi dan penciptaan nilai tambah ekonomi nasional melalui program PLTS 100 GWp.
  • Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan pembangunan tahap awal pembangkit surya 5,3 GWp di 14 lokasi.
  • Kementerian ESDM memproyeksikan potensi penghematan tahunan Rp73,9 triliun serta serapan 5,5 juta tenaga kerja.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kemandirian energi sekaligus penciptaan nilai tambah perekonomian nasional diperkuat melalui pembangunan PLTS 100 GWp. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt Peak (GWp) diproyeksikan memangkas penggunaan bahan bakar fosil.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan pembangunan pembangkit berkapasitas 5,3 GWp pada 25 Agustus 2026 di Bali. Tahap awal proyek strategis tersebut tersebar di 14 lokasi enam provinsi dengan pusat di Jembrana.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyampaikan keterangan resmi pada Senin, 31 Agustus 2026. Pemerintah memastikan peralihan menuju sistem energi terbarukan harus mampu mendongkrak roda perekonomian bagi masyarakat luas.

“Dimulainya program Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS 100 Gigawatt Peak (GWp) bukan sekadar penetapan target. Ini adalah langkah nyata untuk membangun sumber energi baru yang lebih kuat, lebih mandiri, dan berkelanjutan bagi Indonesia,” ujar Qodari dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/8).

Qodari menjelaskan transisi energi hijau dirancang agar dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan potensi penghematan anggaran sebesar Rp73,9 triliun per tahun.

“Namun, bagi pemerintah, peralihan menuju energi bersih bukan hanya soal mengurangi emisi. Lebih dari itu, transisi energi harus membawa manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” ujar Qodari.

Ia mencatat penurunan emisi karbon mencapai 140,16 juta ton serta membuka peluang 5,5 juta tenaga kerja. Pengembangan rantai pasok industri pembangkit listrik tenaga surya dirancang terintegrasi secara utuh dari hulu ke hilir.

“Karena itu, pembangunan PLTS 100 Gigawatt Peak tidak akan berhenti pada pembangunan pembangkit listrik. Kita ingin membangun ekosistem energi surya nasional yang tumbuh dari hulu hingga hilir,” kata Qodari.

Qodari memaparkan total kebutuhan investasi pembangunan sektor energi surya ini mencapai sekitar Rp1.140 triliun secara nasional. Jangkauan infrastruktur kelistrikan ramah lingkungan tersebut diarahkan menyasar berbagai kawasan tertinggal, terdepan, serta kawasan terluar.

“Akan tumbuh kebutuhan baru, investasi baru, lapangan kerja baru, dan pada akhirnya, kekuatan ekonomi baru,” ujar Qodari.

Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat kemandirian energi guna memberikan dampak positif bagi pembangunan nasional. Langkah besar sektor energi terbarukan Indonesia kini telah memasuki babak pelaksanaan secara nyata di lapangan.

“PLTS 100 Gigawatt Peak adalah langkah besar. Dan hari ini, langkah besar itu sudah dimulai,” ujar Qodari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....