Gempa Flores Rusak 1.918 Sekolah dan Fasilitas Publik di NTT
- 01 Sep 2026 01:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menangani 1.918 sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi Flores.
- Kementerian Pekerjaan Umum memulai pembongkaran serta rehabilitasi fisik rumah ibadah terdampak gempa di Kabupaten Manggarai.
- Berbagai lembaga kemanusiaan dan perguruan tinggi menyalurkan bantuan logistik serta pendampingan psikososial untuk para penyintas.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat gempa bumi Flores merusakkan 1.918 satuan pendidikan. Bencana alam tersebut juga menyebabkan sebanyak 665 sekolah mengalami kerusakan berat pada bangunan fisik.
Dampak bencana alam tersebut menyebabkan sebanyak 141.207 murid terhenti mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Pemerintah bersama berbagai lembaga mitra langsung bergerak cepat memulihkan layanan pendidikan darurat di lokasi.
Petugas tanggap darurat berhasil membuka akses menuju 22 sekolah yang sebelumnya belum terjangkau bantuan. Tim lapangan juga memverifikasi sebanyak 630 sekolah yang tercatat memiliki selisih kategori kerusakan bangunan.
Kerusakan bangunan sekolah terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai yaitu sebanyak 381 sekolah dan 1.887 kelas. Kerusakan fasilitas pendidikan tersebut juga melanda Kabupaten Nagekeo sebanyak 1.487 kelas serta Manggarai Timur.
Data laporan per 23 Agustus 2026 menunjukkan sebanyak 6.927 ruang kelas mengalami kerusakan berat. Selain itu sebanyak 48.164 warga sekolah terpaksa mengungsi akibat tempat tinggal mereka terdampak bencana.
Sebanyak 785 sekolah telah mengajukan usulan kebutuhan Ruang Kelas Darurat (RKD) sejumlah 2.908 unit. Petugas mencatat sebanyak 89 tenda darurat telah terpasang sampai hari Minggu, 30 Agustus 2026.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan dukungan penuh terhadap seluruh proses pemulihan. Kerusakan infrastruktur tercatat merusakkan 418 laboratorium, 1.928 unit toilet, serta 370 rumah dinas guru.
“Bencana ini mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Partisipasi semesta bukan sekadar slogan, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika perguruan tinggi mengirimkan mahasiswa untuk pendampingan psikososial, organisasi kemanusiaan membantu memenuhi kebutuhan dasar, dan masyarakat ikut bergerak, kita sedang membangun kekuatan bersama untuk mempercepat pemulihan pendidikan di Flores,” kata Abdul Mu'ti.
“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah hadir dan bergerak bersama untuk membantu pemulihan pendidikan di Flores,” ujarnya.
Samentara, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung penanganan kerusakan fasilitas ibadah di Manggarai. Tim teknis mengidentifikasi kerusakan struktural pada gedung peribadatan Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus.
“Kalau bangunan kita kerjakan ulang, di mana pun kearifan lokal harus dijaga. Jadi harus koordinasi dengan yang menggunakan atau mengelola bangunan tersebut,” kata Menteri Dody.
Jemaat menggelar pembongkaran adat Cear Di'a di Gereja Dampek pada Senin, 31 Agustus 2026. Prosedur pengamanan aset gereja tersebut melibatkan sebanyak 30 jemaat serta 20 personel Polda NTT.
Hasil pemeriksaan struktur Masjid Nurul Huda Reo mencatat kerusakan kolom level IV sebesar 4,67 persen. Kerusakan fisik pada bangunan masjid tersebut meliputi plafon sekitar 60 persen dan dinding sekitar 10 persen.
Tim relawan Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) menggelar pendampingan psikososial di Kabupaten Ngada. Kegiatan pendampingan siswa tersebut juga berlangsung di SD Woe Natarandang, Bajawa pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Yayasan Plan Indonesia telah mendistribusikan sebanyak 300 ribu liter air bersih bagi para penyintas. Lembaga kemanusiaan tersebut juga mulai membangun ruang belajar sementara guna mendukung pendidikan di Nagekeo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....