Rambut Gimbal Dieng Jadi Potensi Wisata, Bukan Kutukan

  • 30 Agt 2026 11:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tiga produk Indikasi Geografis menjadi modal pengembangan GI Tourism di Dieng
  • Produk tersebut yakni Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara, Carica Dieng, dan Purwaceng
  • Wisatawan akan diajak mengenal proses produk dari hulu hingga hilir
  • GI Tourism menggabungkan produk, cerita, kearifan lokal, dan wisata gastronomi
  • Perjalanan GI Tourism Dieng direncanakan berlangsung sekitar tiga hari dua malam

RRI.CO.ID, Banjarnegara - Penggagas Dieng Culture Festival sekaligus Ketua Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa, Alif Faozi menyebut rambut gimbal menjadi salah satu potensi budaya yang dikembangkan sebagai daya tarik wisata Dieng. Ia ingin mengubah pandangan yang menyebut rambut gimbal sebagai kutukan.

Alif mengatakan masyarakat Dieng merasa tidak nyaman ketika sejumlah tulisan menyebut sejarah rambut gimbal sebagai kutukan. Menurutnya, rambut gimbal justru perlu dilihat sebagai bagian dari budaya dan identitas masyarakat Dieng.

“Pada waktu itu sebetulnya kami sangat resah ketika beberapa penulis itu mengatakan katanya sejarah rambut gimbal ini adalah kutukan,” ujar Alif dalam IP Talks & Coffee di Festival Kopi Dieng 2026 yang disiarkan secara langsung YouTube DJKI Kemenkum, Sabtu 29 Agustus 2026.

Menurut Alif, masyarakat Dieng berupaya memperkenalkan rambut gimbal melalui Dieng Culture Festival. Tradisi tersebut kemudian dikemas bersama berbagai kegiatan lain agar dapat menjadi pengalaman bagi wisatawan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa apapun yang dititipkan kepada kita oleh Yang Maha Kuasa ini adalah amanah, maka insyaallah ini bukanlah kutukan tapi keberkahan,” kata Alif.

Alif mengatakan pandangan tersebut juga berkaitan dengan upaya masyarakat memahami kembali sejarah dan identitas Dieng. Menurutnya, Dieng berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta yang dimaknai sebagai tempat yang tinggi dan berkaitan dengan kahyangan.

Ia mengatakan peninggalan budaya di Dieng menjadi modal yang dapat dikembangkan dalam pariwisata. Salah satunya melalui tradisi anak berambut gimbal yang menjadi bagian dari kegiatan Dieng Culture Festival.

Menurut Alif, sesuatu yang biasa bagi masyarakat setempat dapat menjadi sesuatu yang luar biasa bagi wisatawan. Karena itu, potensi budaya tersebut perlu dikemas melalui kegiatan yang memberikan pengalaman kepada pengunjung.

“Karena di pariwisata itu ada semacam kata-kata yang mengatakan sesuatu yang biasa bagi kita ini akan menjadi luar biasa bagi orang lain,” ujarnya.

Berbagai kegiatan kemudian dikembangkan untuk memperkuat daya tarik tersebut. Selain tradisi rambut gimbal, Dieng Culture Festival juga dikemas dengan kegiatan seperti jazz atas awan, festival kopi dan kegiatan budaya lainnya.

Ketua Tim Kerja Pemanfaatan dan Pengawasan Indikasi Geografis pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum, Irma Mariana mengatakan budaya lokal dapat menjadi bagian dari ekosistem kekayaan intelektual dalam pengembangan GI Tourism.

Menurut Irma, GI Tourism tidak hanya berkaitan dengan produk Indikasi Geografis. Kekayaan intelektual komunal dan berbagai potensi budaya juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

“Bicara GI Tourism, bicara ekosistem kekayaan intelektual,” ujar Irma.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....