Santri Tambakberas Olah Sampah Jadi Paving Block dan Biogas

  • 29 Agt 2026 22:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Santri SMK Kreatif Chasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mengolah sampah menjadi paving block dan biogas.
  • Pengolahan sampah diarahkan mendukung konsep zero waste di lingkungan pesantren.
  • Praktik tersebut menunjukkan penerapan literasi lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menko Pangan Zulkifli Hasan mengapresiasi keterampilan santri dalam mengolah sampah menjadi produk bermanfaat.
  • Pesantren dinilai dapat menjadi ruang pendidikan sekaligus pengembangan inovasi lingkungan.

RRI.CO.ID, Jombang - Para santri SMK Kreatif Chasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mengolah sampah menjadi produk bermanfaat. Sampah tersebut diolah menjadi paving block dan biogas melalui praktik pengelolaan lingkungan di lingkungan pesantren.

Praktik tersebut mendapat apresiasi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Apresiasi disampaikan Zulkifli saat berdialog dengan para santri dalam rangkaian Muktamar Literasi Santri 2026.

Menurut Zulkifli, praktik tersebut menunjukkan literasi lingkungan telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Para santri tidak hanya memahami pemilahan sampah, tetapi juga mampu mengolahnya.

“Ini contoh yang baik. Anak-anak santri bukan hanya tahu bagaimana memilah sampah, tetapi sudah bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Zulkifli dalam Expo Bazar SMK Kreatif Chasbullah, Jombang, Jawa Timur, Jumat 28 Agustus 2026.

Dalam dialog tersebut, Zulkifli menguji pengetahuan santri mengenai berbagai jenis sampah. Ia juga menanyakan pemanfaatan sampah anorganik hingga pengelolaan residu.

Para santri mampu menjawab sejumlah pertanyaan tersebut dengan baik. Pengetahuan itu kemudian diterapkan melalui pengolahan sampah hingga menghasilkan pengelolaan mendekati nol residu.

“Kami sudah mengolah sampah. Mengubahnya menjadi biogas dan paving block, Pak Menko,” ujar santri Andika M. Nuur.

Menurut Andika, pengolahan tersebut dilakukan agar sampah tidak terbuang percuma. Praktik itu sekaligus mendorong penerapan konsep zero waste di lingkungan pesantren.

Zulkifli menilai kesadaran mengelola sampah perlu dibangun sejak usia sekolah. Keterampilan tersebut dinilai penting untuk membentuk budaya baru dalam pengelolaan lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Zulkifli juga memperkenalkan pengolahan sampah menjadi energi. Salah satunya melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Menurut Zulkifli, pendekatan pengelolaan sampah perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Pengolahan sampah juga tidak harus menggunakan satu metode yang sama.

Muktamar Literasi Santri 2026 turut diisi dengan pemberian Penghargaan Pesantren Peduli Lingkungan. Praktik SMK Kreatif Chasbullah menjadi salah satu contoh penerapan kepedulian lingkungan di pesantren.

Pengelolaan tersebut menunjukkan pesantren dapat menjadi ruang pendidikan sekaligus pengembangan inovasi lingkungan. Para santri juga dapat berperan langsung dalam mengurangi sampah melalui keterampilan yang mereka miliki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....